|
... kami coba membuat suatu sketsa mengenai watak beliau. Dalam hubungan ini kami mempunyai bukti dari persaksian-persaksian secara kolektip yang dinyatakan kaumnya sendiri tentang watak beliau sebelum beliau menda’wakan kenabian. Pada masa itu beliau di kenal di kalangan bangsanya sebagai Al-Amin – si Jujur dan si Benar (Hisyam).
Di tiap-tiap zaman banyak orang hidup yang bersih dari tuduhan tidak jujur. Banyak juga orang yang tidak pernah dihadapkan kepada percobaan atau godaan yang berat, dan dalam urusan serta perkara biasa yang dijumpai dalam kehidupan mereka berlaku setia dan jujur, tetapi mereka tidak dipandang layak untuk ditonjolkan. Pujian istimewa hanya diberikan jika kehidupan seseorang menggambarkan beberapa nilai akhlak yang tinggi lagi menonjol. Tiap-tiap prajurit berangkat ke medan perang mempertahankan nyawanya dalam bahaya, tetapi tidak setiap prajurit Inggeris dipandang layak menerima anugerah lencana Victoria Cross; tidak pula prajurit Jerman semacam itu dianugerahi lencana Iron Cross. Beratus-ratus ribu orang Perancis bergelut dalam penyelidikan-penyelidikan ilmiah, tetapi tidak tiap-tiap orang dari antara mereka dianugerahi lencana Legion of Honour.
Oleh karena itu, hanya kenyataan bahwa seseorang dapat dipercaya dan jujur, tidak menunjukkan bahwa ia memiliki keistimewaan dalam perkara itu; tetapi, jika seluruh kaum sepakat memberikan kepada seseorang julukan “Al-Amin” maka nyatalah sudah bahwa orang itu memiliki sifat-sifat itu dalam taraf yang luar biasa tingginya. Jika hal itu merupakan kebiasaan kaum Mekkah untuk memberikan kepada beberapa orang dalam tiap-tiap generasi julukan ini atau sebangsanya, maka tiap-tiap orang yang menerimanya akan dipandang memiliki sifat itu dalam taraf yang tinggi. Tetapi, sejarah Mekkah dan Arabia tidak menunjukkan adanya tanda bahwa sudah merupakan kebiasaan orang-orang Arab memberikan julukan demikian atau sebangsanya kepada perseorangan-perseorangan yang terkemuka dalam tiap-tiap genegasi. Sebaliknya, sepanjang kurun zaman sejarah Arab kita dapati bahwa hanya dalam peristiwa Rasulullah saw. kaumnya sepakat memberikan gelar “Al-Amin”. Hal itu menjadi bukti bahwa Rasulullah saw. memiliki sifat-sifat itu dalam kadar begitu tinggi sehingga dalam pengetahuan dan ingatan kaumnya tidak ada orang lain dapat dipandang menyamai dalam hal itu. Kaum Arab terkenal dengan ketajaman otak mereka dan apa-apa yang mereka pandang langka, pastilah sungguh-sungguh langka lagi istimewa.
Ketika Rasulullah saw. diperintahkan oleh Tuhan untuk memikul beban dan tugas kenabian, maka istri beliau, Khadijah, menyatakan dan menjadi saksi atas ketinggian nilai-nilai akhlak beliau, ihwal itu telah dituturkan dalam bagian riwayat hidup Kitab Pengantar ini. Kami sekarang akan lebih lanjut melukiskan beberapa budi pekerti luhur Rasulullah saw. sehingga pembaca dapat memahami segi-segi watak beliau yang umumnya kurang dikenal.
Diriwayatkan tentang Rasulullah saw. bahwa segala tutur kata beliau senantiasa mencerminkan kesucian dan bahwa beliau (tidak seperti orang-orang kebanyakan di zaman beliau) tidak biasa bersumpah (Tirmidhi). Hal itu merupakan suatu kekecualian bagi seorang Arab. Kami tidak mengatakan bahwa orang-orang Arab di zaman Rasulullah saw. biasa mempergunakan bahasa kotor, tetapi tidak pelak lagi bahwa mereka biasa memberikan warna tegas di atas tuturan mereka dengan melontarkan kata-kata sumpah dalam kadar yang cukup banyak, suatu kebiasaan yang masih tetap bertahan sampai hari ini juga. Tetapi Rasulullah saw. menjunjung tinggi nama Tuhan sehingga beliau tidak pernah mengucapkan tanpa alasan yang sepenuhnya dapat diterima.
Beliau sangat memberi perhatian, bahkan cermat sekali, dalam soal kebersihan badan. Beliau senantiasa menggosok gigi beberapa kali sehari dan begitu telaten melakukannya sehingga beliau biasa mengatakan bahwa andaikata beliau tidak khawatir kalau mewajibkannya akan memberatkan, beliau akan menetapkan menjadi kewajiban untuk tiap-tiap orang Muslim menggosok gigi sebelum mengerjakan kelima waktu sembahyang. Beliau senantiasa mencuci tangan sebelum dan sesudah tiap kali makan, dan sesudah makan beliau senantiasa berkumur dan memandang sangat baik jika tiap-tiap orang yang telah memakan masakan berkumur lebih dahulu sebelum ikut bersembahyang berjamaah (Bukhari).
Dalam peraturan Islam, mesjid itu satu-satunya tempat berkumpul yang ditetapkan untuk orang-orang Islam. Oleh karena itu, Rasulullah saw. sangat istimewa menekankan kebersihan mesjid-mesjid, terutama pada saat-saat orang-orang diharapkan akan berkumpul di dalamnya. Beliau memerintahkan supaya pada kesempatan-kesempatan itu sebaiknya setanggi dsb. dibakar untuk membersihkan udara (Abu Dawud). Beliau memberi juga petunjuk supaya jangan ada orang yang pergi ke mesjid, saat diadakan pertemuan-pertemuan sehabis memakan sesuatu yang menyebarkan bau yang menusuk hidung (Bukhari).
Beliau menuntut agar jalan-jalan dijaga kebersihannya dan tidak ada dahan-ranting, batu, dan semua benda atau sesuatu yang akan mengganggu atau bahkan membahayakan. Jika beliau sendiri menemukan hal atau benda demikian di jalan, beliau niscaya menyingkirkannya dan beliau sering bersabda bahwa orang yang membantu menjaga kebersihan jalan-jalan, ia telah berbuat amal saleh dalam pandangan Ilahi.
Pula diriwayatkan bahwa beliau telah memerintahkan supaya lalu-lintas umum tidak boleh dipergunakan sehingga menimbulkan halangan atau menjadi kotor atau melemparkan benda-benda yang najis, atau tidak sedap dipandang, ke jalan umum, atau mengotori jalan dengan cara apa pun, karena semua perbuatan itu tidak diridai Tuhan. Beliau sangat memandang penting upaya agar persediaan air untuk keperluan manusia dijaga kebersihan dan kemurniannya. Umpamanya, beliau melarang sesuatu benda dilemparkan ke dalam air tergenang yang mungkin akan mencemarinya dan memakai persediaan air dengan cara yang dapat menjadikannya kotor (Bukhari dan Muslim, Kitabal-Birrwal Sila).
HIDUP SEDERHANA RASULULLAH
Rasulullah saw. sangat sederhana dalam hal makan dan minum. Beliau tak pernah memperlihatkan rasa kurang senang terhadap makanan yang tidak baik masakannya dan tidak sedap rasanya. Jika didapatnya memakan sajian serupa itu, beliau akan menyantapnya untuk menjaga supaya pemasaknya tidak merasa kecewa. Tetapi, jika hidangan tak dapat dimakan, beliau hanya tidak menyantapnya dan tidak pernah memperlihatkan kekesalannya. Jika beliau telah duduk menghadapi hidangan, beliau menunjukkan minat kepada makanan itu dan biasa mengatakan bahwa beliau tidak suka kepada sikap acuh-tak-acuh terhadap makanan, seolah-olah orang yang makan itu terlalu agung untuk memperhatikan hanya soal makanan dan minuman belaka.
Jika suatu makanan dihidangkan kepada beliau, senantiasa beliau menyantapnya bersama-sama semua yang hadir. Sekali peristiwa seseorang mempersembahkan kurma kepada beliau. Beliau melihat ke sekitar dan setelah beliau menghitung jumlah orang yang hadir, beliau membagi rata bilangan kurma itu sehingga tiap-tiap orang menerima tujuh buah. Abu Huraira meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. tidak pernah makan sekenyang-kenyangnya, walaupun sekedar roti jawawut (Bukhari).
Sekali peristiwa, ketika beliau melalui suatu jalan, tampak kepada beliau beberapa orang berkumpul mengelilingi panggang anak kambing dan siap untuk menikmati jamuan. Ketika mereka melihat Rasulullah saw. mereka mengundang beliau ikut serta, tetapi beliau menolak. Alasannya bukan karena beliau tidak suka daging panggang, tetapi disebabkan oleh kenyataan bahwa beliau tidak menyetujui orang mengadakan perjamuan di tempat terbuka dan terlihat oleh orang-orang miskin yang tak cukup mempunyai makanan.
Diriwayatkan bahwa pada peristiwa lain beliau ikut makan daging panggang. Siti Aisyah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. sampai hari wafat beliau tidak pernah sekali pun menikmati makan kenyang selama tiga hari berturut-turut. Beliau sangat hati-hati agar seseorang tidak pergi makan di rumah orang lain tanpa di undang. Pada sekali peristiwa, beliau diundang makan oleh seseorang dan beliau diharapkan membawa serta empat orang lain. Ketika beliau tiba di rumah di pengundang, agaknya ada orang ke enam yang ikut beserta rombongan. Tuan rumah menjemput di pintu dan Rasulullah saw. meminta perhatiannya dengan berkata bahwa sekarang mereka berenam dan terserah kepada tuan rumah untuk memutuskan, apakah orang yang ke enam itu boleh ikut makan atau harus pergi. Tentu saja tuan rumah mengundang juga orang yang keenam itu (Bukhari, Kitabal-Ath’ima).
Bilamana Rasulullah saw. duduk bersantap, beliau senantiasa mulai makan dengan ucapan Bismillahir-rahmanir-rahim dan segera sesudah selesai, beliau mengucapkan syukur dengan kata-kata: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan kepada kita, puji-pujian yang berlimpah dan ikhlas, dan selalu bertambah; puji-pujian yang tidak meninggalkan dalam pikiran seseorang kesan perasaan telah cukup memuji, melainkan menimbulkan rasa cukup pernah dikatakan, dan puji-pujian yang tidak akan berakhir dan menjadikan seseorang berpikir bahwa tiap-tiap perbuatan Ilahi layak dipuji dan harus dipuji. Ya Allah, penuhi hati kami dengan keharuan-keharuan ini.” Kadang-kadang beliau memakai kata-kata ini, “Segala puji bagi Tuhan yang telah melepaskan lapar dan dahaga kami. Semoga hati kami senantiasa mendambakan puji-pujian-Nya dan jangan tidak bersyukur kepada Dia.” Beliau senantiasa mengingatkan para sahabat supaya berhenti makan sebelum kenyang benar dan mengatakan bahwa makanan seseorang harus cukup membuat kenyang dua orang. Bilamana ada makanan yang istimewa dimasak di rumah, beliau senantiasa menyarankan supaya sebagian diberikan sebagai sedekah kepada tetangga-tetangganya; dan hadiah makanan dan benda-benda lain senantiasa dikirim dari rumah beliau ke rumah tetangga-tetangga (Muslim dan Bukhari, Kitabal-Adab).
Beliau selalu berusaha mengetahui dari wajah mereka yang ada beserta beliau kalau-kalau di antara mereka ada yang memerlukan pertolongan. Abu Hurairah menceritakan peristiwa berikut:
Sekali peristiwa ia pernah mengalami lebih dari tiga hari tanpa mendapat makan. Ia berdiri di pintu mesjid dan melihat Abu Bakar lalu ke dekat dia. Ia bertanya kepada Abu Bakar arti ayat Alquran yang memerintahkan pemberian makan kepada fakir-miskin. Abu Bakar pun menerangkan artinya lalu pergi. Abu Hurairah, saat ia menceritakan peristiwa itu, biasa mengatakan dengan rasa kesal bahwa ia pun mengerti arti ayat Alquran tersebut seperti Abu Bakar. Tujuan menanyakan kepadanya arti ayat itu ialah supaya Abu Bakar dapat menerka bahwa ia lapar dan menyediakan untuknya makanan. Tak lama kemudian Umar lewat dan Abu Hurairah juga meminta kepadanya untuk menerangkan arti ayat itu. Umar pun menerangkan artinya dan terus berlalu. Abu Hurairah, seperti halnya sahabat-sahabat lainnya, amat tidak suka meminta secara langsung, dan ketika ia merasa bahwa usaha menarik perhatian orang kepada keadaannya gagal, ia sudah tak bertenaga. Sayup-sayup ia mendengar namanya dipanggil dengan suara mesra dan penuh rasa cinta. Ketika menoleh kearah datangnya suara itu, dilihatnya Rasulullah saw. memandang kepadanya melalui jendela rumah beliau sambil tersenyum.
Beliau menanyakan kepada Abu Hurairah, “Apakah kamu lapar?” yang dijawab oleh Abu hurairah. “Sesungguhnya, ya Rasulullah, saya lapar.” Rasulullah bersabda, “Di rumahku juga tidak ada makanan; tetapi ada orang yang baru saja memberi susu secawan kepada kami. Pergilah ke mesjid dan periksalah, adakah juga di sana orang-orang lain yang lapar seperti kamu.” Abu Hurairah melanjutnya ceritanya, “Aku berkata kepada diriku sendiri bahwa aku begitu laparnya sehingga aku takkan cukup meminum susu secawan itu, tetapi Rasulullah saw. masih meminta juga kepadaku agar mengundang orang-orang lain yang mungkin keadaannya sama seperti aku; ini artinya aku akan mendapat bagian susu sedikit sekali. Tetapi aku harus melaksanakan perintah Rasulullah saw., maka aku pun pergi ke mesjid dan kudapati enam orang duduk-duduk di situ. Semua kubawa menghadap Rasulullah saw. Beliau memberikan cawan susu itu kepada salah seorang dari mereka dan disuruhnya minum. Ketika ia sudah selesai dan cawannya telah dilepaskan dari mulutnya, Rasulullah saw. masih mendesaknya minum lagi kedua kalinya dan ketiga kalinya sampai ia merasa kenyang betul. Dengan cara demikian juga beliau mendesak tiap-tiap orang dari keenam sahabat itu untuk minum sekenyang-kenyangnya. Tiap-tiap kali beliau meminta kepada salah seorang untuk minum, aku merasa cemas dan khawatir bahwa hanya sedikit sekali yang masih tersisa untuk diriku. Sesudah keenam orang itu minum susu sekenyang-kenyangnya, Rasulullah saw. menyerahkan cawan itu kepadaku dan kulihat di dalamnya terdapat masih banyak susu. Kepadaku pun beliau mendesak untuk minum sekenyang-kenyangnya dan menyuruhku minum untuk kedua dan ketiga kalinya dan akhirnya beliau minum sendiri sisanya, kemudian membaca doa syukur dan akhirnya menutup pintu” (Bukhari, Kitabal-Riqaq). Tujuan Rasulullah saw. memberi giliran kepada Abu Hurairah terakhir sekali mungkin guna memberi pengertian kepadanya bahwa ia harus bertahan terhadap derita lapar itu dengan menyerahkan diri kepada Tuhan dan sebaiknya tidak menarik perhatian orang kepada keadaannya, walaupun dengan cara yang tidak langsung.
Beliau makan-minum senantiasa dengan tangan kanan dan selalu berhenti tiga kali untuk bernafas di tengah-tengah minum. Salah satu sebabnya mungkin karena orang yang haus lalu minum air dengan meneguk sekaligus dapat minum terlalu banyak hingga mengacaukan pencernaannya. Dalam urusan makan, aturan yang diikuti beliau ialah beliau memakan segala yang bersih dan halal, tetapi bukan untuk sekedar bersenang-senang atau menyebabkan orang lain tidak mendapat bagian. Seperti telah dinyatakan di atas, makanan beliau sehari-hari senantiasa amat sederhana, tetapi jika ada yang mempersembahkan kepada beliau suatu hidangan yang istimewa, beliau tidak menolaknya. Tetapi, beliau tidak mendambakan makanan lezat, walaupun beliau sangat gemar akan madu dan kurma. Mengenai kurma beliau sering berkata bahwa ada perhubungan erat antara seorang muslim dengan pohon kurma, daunnya, kulitnya, dan buahnya yang masak maupun yang mentah, bahkan biji buahnya yang keras sekalipun, semuanya dapat dipergunakan untuk ini dan itu, dan tidak ada bagian yang tidak berguna. Demikianlah keadaan seorang muslim sejati. Tidak ada perbuatannya yang tanpa faedah dan apa saja yang dilakukannya akan meningkatkan kesejahteraan umat manusia (Bukhari dan Muslim).
Rasulullah saw. sangat sederhana dalam berbusana. Pakaian sehari-hari beliau terdiri atas kemeja dan izar (kain sarung) atau kemeja dan celana. Izar ataupun celana itu dikenakan oleh beliau supaya pakaian itu menutupi tubuh sampai kepada pergelangan kaki. Tidak berkenan di hati beliau kalau lutut atau bagian mana pun di atas lutut terbuka jika tak terpaksa. Beliau tidak menyukai pakaian, baik sebagai bagian dari pakaian atau pun sebagai kain gordeng dan sebagainya, dari bahan yang padanya gambar-gambar telah disulamkan atau dicatkan, apalagi jika gambar-gambarnya besar dan dapat diartikan berhala atau benda-benda yang dipuja. Sekali peristiwa beliau melihat gordeng tergantung di rumah beliau berlukiskan gambar-gambar besar dan beliau memerintahkan menanggalkannya. Tetapi beliau tidak berkeberatan memakai pakaian bergambar kecil-kecil yang tidak dapat diartikan seperti itu.
Beliau sendiri tidak pernah memakai kain sutera dan tidak memperkenankan kaum pria Islam mengenakan pakaian dari kain sutera. Untuk tujuan mengotentikkan surat-surat beliau kepada pemerintah-pemerintah tertentu berisikan seruan untuk menerima Islam, beliau meminta disiapkan sebuah cincin stempel, tetapi hendaklah terbuat dari perak dan bukan dari emas sebab, beliau mengatakan, memakai perhiasan emas dilarang untuk kaum pria muslim (Bukhari dan Muslim). Wanita muslim diperkenankan memakai kain sutera dan emas, tetapi dalam hal ini pun Rasulullah saw. memerintahkan supaya sifat berlebih-lebihan harus dicegah. Sekali peristiwa beliau meminta sumbangan-sumbangan untuk meringankan penderitaan fakir-miskin, dan seorang bangsawati mengorbankan sebuah dari gelangnya dan diserahkannya sebagai sumbangannya. Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Apakah tangan lainnya tidak perlu diselamatkan dari api neraka?” Wanita itu melepaskan gelangnya dari tangan lainnya dan diserahkannya juga untuk tujuan yang ada dalam pikiran beliau. Tidak seorang pun dari istri-istri beliau mempunyai perhiasan-perhiasan yang agak berharga dan wanita muslim lainnya pun sangat jarang mempunyai perhiasan.
Sesuai dengan ajaran Alquran, beliau menyerukan agar tidak mengumpulkan dan menimbun uang atau emas-perak, karena beliau memandang hal itu merugikan kepentingan golongan miskin dari masyarakat dan mengakibatkan kacaunya ekonomi masyarakat dan itu adalah dosa. Sekali peristiwa Umar mengajukan saran kepada Rasulullah saw. Sebab beliau harus menerima duta-duta raja-raja besar, beliau disarankan agar sebaiknya menyuruh buatkan jubah indah lagi mewah untuk dikenakan beliau pada peristiwa-peristiwa resmi. Rasulullah saw. tidak menyetujui saran itu dan bersabda, “Tuhan tidak akan rida kepadaku mengikuti cara itu. Aku akan menerima tiap-tiap orang dengan pakaian yang biasa kupakai.” Pada suatu ketika beliau menerima hadiah bahan pakaian dari sutera. Satu di antaranya diberikan kepada Umar. Umar bertanya, “Bagaimana akan dapat memakainya, kalau Anda sendiri telah melarang memakai pakaian sutera?” Rasulullah saw. menjawab, “Tiap-tiap hadiah tidak dimaksud untuk dipakai sendiri.” Maksud beliau ialah, supaya Umar memberikan kepada istrinya atau anak perempuannya, karena pakaian itu dari sutera, atau untuk keperluan lain (Bukhari, Kitab al-Libas).
Tempat tidur Rasulullah saw. juga sangat sederhana. Beliau tak pernah mempergunakan tempat tidur dari besi atau dipan, tetapi senantiasa tidur di atas tanah beralaskan sehelai kulit atau sehelai bulu unta. Siti Aisyah ra. meriwayatkan: “Tempat tidur kami begitu sempit sehingga jika Rasulullah saw. bangkit untuk tahajjud, aku biasa berbaring miring dan meluruskan kaki saat beliau berdiri dan melipatnya kembali jika beliau sujud (Muslim, Tirmidhi, dan Bukhari, Kitab al-Ath’ima).
Beliau juga sama sederhananya bertalian dengan penataan tempat tinggal beliau. Rumah beliau terdiri atas satu ruangan dan sebuah halaman sempit. Seutas tali terentang di tengah kamar sehingga jika beliau menerima tamu, pada tali itu dapat digantungkan kain untuk dipergunakan sebagai kamar tamu yang terpisah dari bagian yang dipergunakan oleh istri beliau. Kehidupan beliau begitu sederhananya sehingga Siti Aisyah ra. meriwayatkan bahwa di masa hidup Rasulullah saw. mereka sering terpaksa hidup dari kurma dan air saja dan pada hari wafat beliau tidak ada makanan di dalam rumah kecuali beberapa butir kurma saja (Bukhari).
PERHUBUNGAN DENGAN TUHAN
Tiap-tiap segi kehidupan Rasulullah saw. jelas nampak diliputi dan diwarnai oleh cinta dan bakti kepada Tuhan. Walaupun pertanggungjawaban yang sangat berat terletak di atas bahu beliau, bagian terbesar dari waktu, siang dan malam, dipergunakan untuk beribadah dan berzikir kepada Tuhan. Beliau biasa bangkit meninggalkan tempat tidur tengah malam dan larut dalam beribadah kepada Tuhan sampai saat tiba untuk pergi ke mesjid hendak sembahyang subuh. Kadang-kadang beliau begitu lama berdiri dalam sembahyang tahajud sehingga kaki beliau menjadi bengkak-bengkak, dan mereka yang menyaksikan beliau dalam keadaan demikian sangat terharu. Sekali peristiwa Aisyah ra. berkata kepada beliau, “Tuhan telah memberi kehormatan kepada engkau dengan cinta dan kedekatan-Nya. Mengapa engkau membebani diri sendiri dengan menanggung begitu banyak kesusahan dan kesukaran?” Beliau menjawab, “Jika Tuhan, atas kasih-sayang-Nya, mengaruniai cinta dan kedekatan-Nya kepadaku, bukankah telah menjadi kewajiban pada giliranku senantiasa menyampaikan terima-kasih kepada Dia? Bersyukurlah hendaknya sebanyak bertambahnya karunia yang diterima.” (Kitab al-Kusuf).
Beliau tidak pernah melangkah untuk menyelesaikan suatu usaha tanpa perintah Ilahi atau izin-Nya. Telah diriwayatkan dalam bab riwayat hidup beliau bahwa kendati menderita karena penindasan yang sangat aniaya oleh kaum Mekkah beliau tidak meninggalkan kota itu sebelum mendapat perintah Ilahi. Ketika perlawanan memuncak dan beliau mengizinkan para sahabat mengungsi ke Abessinia, beberapa di antara mereka menyatakan keinginan supaya beliau berangkat bersama mereka. Beliau menolak atas dasar belum mendapat izin Ilahi. Jadi, di masa percobaan dan penindasan juga, ketika biasa orang suka kalau sahabat-sahabat dan sanak saudaranya kumpul-kumpul di sekitarnya, beliau menyaranakan kepada para sahabat untuk mencari perlindungan di Abessinia dan beliau sendiri tetap tinggal di Mekkah, sebab Tuhan belum memberi perintah.
Jika beliau mendengar Kalamullah dibacakan, beliau sangat terharu dan air mata mulai menitik, terutama jika beliau mendengar ayat-ayat yang menekankan pada kewajiban beliau sendiri. Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa ia sekali peristiwa disuruh Rasulullah saw. membaca beberapa ayat Alquran. Ia berkata, “Ya Rasulullah, Alquran telah diturunkan kepada Anda (artinya: Anda telah lebih mengetahui daripada siapa pun). Mengapa kemudian harus membacakannya kepada Anda?” Rasulullah saw. menjawab, “Aku suka juga mendengar Alquran dibaca oleh orang lain.” Maka Abdullah bin Mas’ud mulai membacakan ayat-ayat dari surah An Nisa. Ketika membaca :
Maka, betapa peri keadaan mereka ketika Kami akan mendatangkan seorang saksi dari setiap umat, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini (4:42).
Rasulullah saw. berseru, “Cukup!” Abdullah bin Mas’ud melihat ke arah beliau dan melihat air mata mengalir dari mata Rasulullah saw.(Bukhari, Kitab Fada’il al-Quran).
Beliau begitu memandang penting ikut dalam sembahyang berjemaah sehingga tengah sakit keras, ketika dalam keadaan serupa itu bukan saja diizinkan untuk salat seorang diri di dalam kamar tetapi bahkan diizinkan untuk mengerjakan salat di atas tempat tidur sambil berbaring, beliau memaksakan diri pergi ke mesjid untuk menjadi imam. Sekali peristiwa, ketika beliau tidak sempat pergi ke mesjid, beliau menyuruh Sayyidina Abu Bakar untuk menjadi imam. Tetapi, kemudian beliau merasakan ada perbaikan dalam kesehatannya dan minta supaya beliau dipapah berjalan ke mesjid. Beliau bersitopang pada pundak dua orang, tetapi keadaan beliau begitu lemahnya sehingga menurut Siti Aisyah ra. kaki beliau terseret-seret (Bukhari).
Menurut kebiasaan umum dalam mengungkapkan kegembiraan atau menarik perhatian kepada sesuatu ialah dengan bertepuk tangan – dan orang Arab juga berbuat seperti itu. Tetapi, Rasulullah saw. demikian suka berzikir Ilahi sehingga untuk keperluan pengungkapan rasa gembira itu juga memuji dan berzikir Ilahi ditetapkan untuk alih-alih tepuk tangan. Sekali peristiwa ketika beliau sibuk dengan urusan penting, waktu sembahyang pun mendekat dan beliau menyuruh Sayyidina Abu Bakar untuk menjadi imam. Tak lama kemudian beliau dapat menyelesaikan urusan beliau dan segera pergi ke mesjid. Abu Bakar menjadi imam, tetapi ketika jemaat melihat bahwa Rasulullah saw. telah tiba, mereka segera bertepuk tangan untuk menyatakan kegembiraan atas kedatangan beliau dan menarik perhatian Abu Bakar dan memberi tahu bahwa Rasulullah saw. telah tiba. Maka Abu Bakar undur dan memberi tempat kepada Rasulullah saw. untuk mengimami salat. Sesudah sembahyang selesai, Rasulullah saw. bertanya kepada Abu bakar, “Mengapa engkau undur sesudah aku menunjuk engkau sebagai imam?” Abu Bakar menjawab, “Ya Rasulullah, bagaimana akan pantas untuk anak Abu Quhafa menjadi imam sedang Rasulullah sendiri hadir?” Maka Rasulullah bertanya kepada jemaat, “Mengapa kamu sekalian bertepuk tangan? Adalah tidak pantas bila kalian sedang larut dalam berzikir kepada Allah maka kalian bertepuk tangan. Jika kebetulan dalam waktu salat perhatian harus tercurah kepada sesuatu, daripada bertepuk tangan kamu lebih baik menyebut ‘Subhanallah’ dengan suara nyaring. Hal itu akan menujukan perhatian kepada perkara yang harus mendapat perhatian” (Bukhari).
Rasulullah saw. tidak menyukai salat dan beribadah dilakukan sebagai hukuman atau sanksi atas diri sendiri untuk penebus dosa. Sekali peristiwa beliau sampai ke rumah dan melihat tali terentang antara dua tiang. Beliau menanyakan tujuannya dan mendapat keterangan bahwa istri beliau, Zainab, biasa berdiri tegak dengan bantuan tali jika dalam waktu mendirikan salat ia menjadi letih dan payah. Beliau memerintahkan supaya membuang tali tersebut dan menerangkan bahwa salat sebaiknya dilangsungkan selama dirasakan mudah dan ringan, dan jika ia menjadi terlalu lelah, seseorang hendaknya ia duduk. Salat itu bukan sanksi dan jika diteruskan juga, sesudahnya badan menjadi letih, maka sembahyang itu menyalahi tujuannya (Bukhari, Kitabal-Kusuf).
Beliau mencela sekali tiap-tiap tindakan dan perbuatan yang berbau syirik walau sedikit. Ketika akhir hayat beliau telah mendekat dan telah dicekam oleh derita sakaratulmaut, beliau dalam keresahan menggulingkan badan dari kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan sambil berseru, “Terkutuklah orang-orang Yahudi dan Kristen yang telah mengubah kuburan nabi-nabi mereka menjadi tempat ibadah”(Bukhari). Beliau memaksudkan, orang-orang Yahudi dan Kristen yang bersujud pada kuburan nabi-nabi mereka dan orang-orang suci mereka dan mendoa kepada mereka; dan beliau memaksudkan bahwa jika kaum Muslimin terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan semacam itu, mereka tidak berhak atas doa-doa beliau; tetapi, sebaliknya, mereka telah memutuskan perhubungan mereka dengan beliau.
Gairat beliau akan kemuliaan Tuhan telah diceritakan dalam bab riwayat hidup beliau. Kaum Mekkah telah berusaha menyampaikan segala macam bujukan dan mendesak beliau menghentikan perlawanan terhadap penyembahan kepada berhala (Tabari). Pamanda, Abu Thalib, juga mencoba mencegah beliau dengan membayangkan kekhawatirannya bahwa jika beliau bersikeras melancarkan serangan terhadap kemusyrikan, Abu Thalib akan terpaksa memilih antara berhenti melindungi beliau atau ia siap menerima perlawanan hebat dari kaumnya. Jawaban Rasulullah saw. satu-satunya kepada pamanda pada peristiwa itu, “Jika orang-orang itu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiri, aku tidak akan berhenti mengumumkan dan menablighkan ajaran Tauhid” (Zurqani). Di tengah berkecamuknya Perang Uhud, ketika sisa pasukan muslim yang luka-luka berkumpul di sekitar beliau di kaki bukit dan musuh melampiaskan kegembiraan dengan teriakan-teriakan kemenangan setelah mematahkan barisan muslim, dan pimpinan mereka, Abu Sufyan, berpekik: “Hidup Hubal (satu dari antara berhala-berhala kaum Mekkah), Hidup Hubal!” maka Rasulullah saw. walaupun tahu dan sadar bahwa keselamatan beliau dan keselamatan serombongan kecil kaum muslim sekitar beliau bergantung pada sikap tutup mulut, tidak dapat menahan kesabaran dan memerintahkan kepada para sahabat untuk menjawab dengan pekikan: “Untuk Allah semata kemenangan dan kejayaan! Untuk Allah semata kemenangan dan kejayaan!” (Bukhari).
Suatu salah pengertian yang sudah biasa ada pada para pengikut bermacam-macam agama sebelum kedatangan Islam ialah, kejadian-kejadian di langit dan di bumi nampak sebagai tanda ikut bergembira atau belasungkawa untuk nabi-nabi, wali-wali dan orang-orang besar lainnya dan bahkan gerakan-gerakan benda langit dikendalikan oleh mereka. Umpamanya, diriwayatkan tentang beberapa di antara mereka bahwa mereka dapat membuat matahari berhenti beredar dan menghentikan perjalanan bulan atau air berhenti mengalir. Islam mengajarkan bahwa paham demikian sama sekali tak beralasan dan bahwa cerita keajaiban-keajaiban semacam itu dalam kitab-kitab suci hanya dipergunakan sebagai perlambang yang bukan ditafsirkan menurut arti yang sebenarnya malah telah menimbulkan takhayul-takhayul. Walaupun demikian, sebagian orang muslim cenderung menghubungkan keajaiban-keajaiban itu dengan kejadian-kejadian dalam kehidupan nabi-nabi besar. Pada tahun-tahun terakhir kehidupan Rasulullah saw. putra beliau Ibrahim, meninggal dalam umur dua setengah tahun. Pada hari itu terjadi gerhana matahari. Beberapa di antara orang-orang muslim di Medinah menyebarkan paham bahwa matahari telah menjadi gelap pada peristiwa meninggalnya putra Rasulullah saw. sebagai alamat belasungkawa samawi. Ketika hal itu diceritakan kepada Rasulullah saw., beliau nampak sangat kecewa dan sangat mencela paham itu. Beliau menerangkan bahwa matahari, bulan dan benda-benda langit lainnya, semuanya diatur oleh hukum-hukum Tuhan dan bahwa peredaran matahari, bulan, dan gejala yang berkaitan dengan matahari dan bulan tidak ada sangkut-paut dengan hidup dan mati seseorang (Bukhari).
Arabia adalah daerah yang sangat tandus dan hujan selalu disambut gembira. Bangsa Arab biasa menggambarkan dalam ingatan mereka bahwa hujan itu diatur oleh peredaran bintang. Ketika seseorang mengungkapkan pikiran itu Rasulullah saw. sangat bingung dan memperingatkan kaumnya untuk tidak mengaitkan karunia yang mereka terima dari Tuhan kepada sumber-sumber lain. Beliau menerangkan bahwa hujan dan lain-lain gejala alam itu semuanya diatur oleh hukum-hukum Ilahi, bukan dikendalikan oleh kesenangan atau ketidak senangan dewa atau dewi atau suatu kekuatan lain (Muslim, Kitabal-Iman).
Beliau mempunyai ketawakalan yang sempurna kepada Tuhan dan tidak akan goyah oleh kemajemukan keadaan yang tidak bersahabat. Sekali peristiwa seorang musuh melihat beliau tidur dan tidak berkawal, ia berdiri di hadapan beliau dengan pedang terhunus dan bersiap membunuh beliau dengan seketika. Sebelum melakukan ia bertanya, “Siapa dapat menyelamatkan kamu dari keadaanmu sekarang?” Rasulullah saw. menjawab dengan tenang, “Allah.” Beliau menyatakan dengan keyakinan yang begitu sempurna sehingga bahkan hati musuh yang kafir pun terpaksa mengakui keluhuran iman dan keikhlasan beliau kepada Allah swt. Pedangnya terlepas dan jatuh, dan ia, yang sejenak sebelumnya telah siap membinasakan beliau, berdiri di hadapan beliau seperti seorang penjahat yang menunggu keputusan hakim (Muslim, Kitab al-Fada’il dan Bukhari, Kitab al-Jihad).
Di pihak lain nampak sikap rasa merendahkan diri yang sempurna dihadapan Tuhan-Nya. Abu Hurairah meriwayatkan, “Pada suatu hari aku mendengar Rasulullah saw. bersabda bahwa tidak ada manusia meraih keselamatan melalui amal salehnya sendiri. Atas keterangan itu aku berkata, “Ya Rasulullah, Anda pasti masuk surga melalui amal saleh Anda.” Dijawab oleh Rasulullah saw., “Tidak, aku pun tidak dapat masuk surga dengan perantaraan amal baikku kecuali oleh Kasih Sayang Tuhan” (Bukhari, Kitab al-Riqaq).
Beliau senantiasa menganjurkan orang-orang untuk memilih dan menempuh jalan yang benar dan dengan rajin berikhtiar, dengan itu mereka dapat mencapai Qurb Ilahi (kedekatan kepada Tuhan). Beliau mengajarkan bahwa jangan ada yang menginginkan kematian untuk dirinya, sebab jika ia orang baik, maka dengan kehidupan yang lebih lama dialami olehnya akan dapat meraih kebaikan yang lebih besar, dan jika ia jahat, ia dapat bertobat dari perbuatan-perbuatan jahatnya seandainya diberi waktu panjang dan memulai menempuh jalan yang baik. Cinta beliau dan ibadah beliau kepada Tuhan nampak dalam berbagai-bagai cara. Umpamanya, manakala sesudah musim kemarau tetesan-tetesan hujan pertama mulai turun, beliau mengeluarkan lidah untuk menangkap tetesan-tetesan hujan itu dan berseru, “Inilah karunia rahmat terakhir dari Tuhan-ku.” Beliau senantiasa sibuk mendoa untuk memohon ampunan dan rahmat Tuhan, terutama jika beliau duduk-duduk diantara orang banyak supaya mereka yang beserta beliau atau bergaul dengan beliau dan orang-orang Muslim pada umumnya akan terhindar dari murka Tuhan dan menjadi layak meraih ampunan Allah. Kesadaran bahwa beliau senantiasa ada di hadapan Tuhan tidak pernah lepas dari beliau. Jika beliau berbaring untuk tidur, beliau bersabda, “Ya, Allah, matikan aku (tidurkan aku) dengan nama-Mu di bibirku, dan dengan nama-Mu di bibirku bangkitkan lagi hamba-Mu ini.” Jika beliau bangun, beliau biasa bersabda, “Segala puji bagi Tuhan yang menghidupkan diriku sesudah mati(tidur) dan pada suatu hari kita semua akan dikumpulkan di hadapan Dia”(Bukhari).
Beliau senantiasa mendambakan Qurb Ilahi (kedekatan kepada Tuhan, dan salah sebuah doa yang beliau seringkali mengulangi ialah:
“Ya Allah! Penuhilah kiranya hatiku dengan nur-Mu dan penuhi mataku dengan nur-Mu dan penuhi telingaku dengan nur-Mu dan letakkan nur-Mu di kananku dan letakkan nur-Mu di kiriku dan letakkan nur-Mu di atasku dan letakkan nur-Mu dibawahku dan letakkan nur-Mu di hadapanku dan letakkan nur-Mu di belakangku, dan wahai Tuhan, jadikanlah seluruh diriku nur” (Bukhari).
Ibu Abbas meriwayatkan: “Tak lama sebelum wafat Rasulullah saw., Musailima (seorang nabi palsu) datang ke Medinah dan menyatakan bahwa jika Nabi Muhammad saw. mau menunjuk dia sebagai pengganti beliau, ia bersedia menerima beliau. Musailima diikuti oleh suatu rombongan pengiring yang berjumlah amat besar, dan kabilahnya adalah terbesar dari antara kabilah-kabilah yang ada di Arab. Ketika Rasulullah saw. diberi tahu tentang kedatangannya, beliau menjumpainya disertai oleh Tsabit bin Qais bin Syams. Beliau memegang ranting pohon kurma kering. Ketika beliau datang ke kemah Musailima, beliau menuju kepadanya dan berdiri di hadapannya. Pada waktu itu telah banyak sahabat-sahabat datang dan berdiri di sekitar beliau. Beliau bersabda kepada Musailima, “Telah disampaikan kepadaku bahwa anda telah mengatakan jika aku tunjuk anda sebagai penggantiku, anda bersedia menjadi pengikutku, tetapi aku tidak akan memberikan ranting pohon kurma kering ini pun kepada anda jika bertentangan dengan perintah Tuhan. Kesudahan anda akan menjadi sebagaimana telah ditetapkan Tuhan. Jika anda berpaling dari padaku, Tuhan akan memberi anda kegagalan. Aku melihat dengan jelas bahwa Tuhan akan memperlakukan anda seperti yang telah diwahyukan kepadaku.” Beliau kemudian meneruskan, “Sekarang aku akan pergi. Jika anda ingin mengatakan sesuatu, anda dapat menghubungi Tsabit bin Qais bin Syams yang akan bertindak sebagai wakilku.” Kemudian beliau berangkat. Abu Hurairah juga beserta beliau. Salah seorang menanyakan kepada Rasulullah saw. apa maksud dengan kata-kata “Tuhan akan memperlakukan Musailima seperti yang telah diwahyukan kepada beliau.” Rasulullah saw. menjawab, “Saya melihat dalam mimpi itu aku disuruh Tuhan untuk meniup gelang-gelang itu. Ketika kutiup gelang-gelang itu, kedua-duanya lenyap. Aku menantikan bahwa sesudahku akan timbul dua penda’wa (nabi) palsu” (Bukhari, Kitab al-Maghazi). Peristiwa ini terjadi pada waktu mendekatnya wafat Rasulullah saw. Suku Arab terakhir dan terbesar yang sampai pada waktu itu belum menerima beliau telah bersiap-siap untuk masuk Islam dan satu-satunya syarat yang mereka ajukan ialah bahwa Rasulullah saw. menunjuk pemimpin mereka menjadi pengganti beliau. Jika Rasulullah saw. sedikit saja di dorong oleh alasan-alasan pribadi, maka tidak ada lagi yang menjadi rintangan untuk mempersatukan seluruh Arabia dengan menjanjikan pengganti beliau kepada pemimpin suku yang terbesar dari Arabia. Rasulullah saw. tak punya putra dan tidak ada keinginan mendirikan wangsa yang dapat merintangi pengaturan-pengaturan demikian, tetapi beliau tidak pernah memandang barang sekecil-kecilnya pun sebagai hak beliau dan menjadi milik beliau secara mutlak. Maka beliau tidak dapat memandang kepemimpinan kaum Muslim itu seakan-akan hak beliau untuk memberikannya menurut kehendak beliau sendiri. Beliau memandangnya sebagai amanat Tuhan yang suci dan beranggapan bahwa Tuhan akan memberikannya kepada siapa yang dipandang-Nya layak. Maka beliau menolak usul Musailima dengan tegas dan mengatakan bahwa jangankan kedudukan kepemimpinan kaum Muslim, ranting pohon korma kering sekalipun beliau tidak bersedia memberikan kepadanya.
Kapan saja Rasulullah saw. menyinggung atau membicarakan Tuhan, nampak kepada yang menyaksikan seolah-olah seluruh wujud beliau ada dalam haribaan cinta dan pengabdian kepada Tuhan. Beliau senantiasa menekankan kesederhanaan dalam beribadah. Mesjid yang didirikan beliau dan di dalamnya beliau senantiasa mendirikan sembahyang, lantainya dari tanah biasa tanpa alas atau tikar dan atapnya yang dibuat dari dahan dan daun pohon korma, bocor jika hujan. Dalam keadaan demikian Rasulullah saw. dan para jemaah basah kuyup karena air hujan dan lumpur, tetapi beliau terus menyelesaikan sembahyang sampai akhir dan tak pernah beliau memberi isyarat supaya menunda sembahyang atau pindah ke tempat yang lebih terlindung (Bukhari, Kitab al-Saum).
Beliau sangat waspada juga akan peri keadaan para sahabat. Abdullah bin Umar adalah orang yang sangat bertakwa dan zuhud. Mengenai dia Rasulullah saw. bersabda pada sekali peristiwa, “Abdullah bin Umar akan lebih baik lagi jika ia lebih dawam sembahyang tahajud.” Ketika sabda itu disampaikan kepada Abdullah bin Umar, maka sesudah itu tak pernah lagi ia meninggalkan sembahyang tahajud. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. ketika beliau ada di rumah puterinya, Fatimah, menanyakan apa Fatimah dan suaminya, Ali, dawam menjalankan sembahyang tahajud mereka, Ali menjawab,”Ya Rasulullah, kami berusaha bangun untuk sembahyang tahajud, tetapi bila menurut kehendak Tuhan kami tidak dapat bangun, kami meninggalkannya.” Beliau Pulang dan dalam perjalanan beliau mengulangi beberapa kali ayat Alquran yang mengandung arti bahwa orang seringkali segan mengakui kesalahannya dan mencoba menutupinya dengan macam-macam alasan (Bukhari, Kitab al-Kusuf). Rasulullah saw. bermaksud mengatakan bahwa Ali hendaknya tidak melemparkan kesalahannya kepada Tuhan dengan mengatakan bahwa jika Tuhan menghendaki mereka tidak bangun, mereka tidak dapat bangun pada waktunya, tetapi ia hendaknya mengakui kelemahannya dalam hal ini.
TIDAK MENYETUJUI PENGHUKUMAN TERHADAP DIRI SENDIRI UNTUK MENEBUS DOSA
Tetapi, Rasulullah saw. sangat tidak menyetujui cara-cara yang dibuat-buat dalam urusan ibadah dan mencela praktek penghukuman diri sendiri untuk menebus dosa sebagai suatu bentuk Ibadah. Beliau mengajarkan bahwa ibadah terdiri atas penggunaan kemampuan-kemampuan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Tuhan telah memberi mata untuk melihat, maka bukan ibadah tetapi aniaya namanya kalau mata dibiarkan pejam atau dibuang. Bukan penggunaan kemampuan melihat secara tepat yang dapat dipandang dosa, melainkan penyalahgunaan daya itulah yang menjadi dosa. Orang yang melenyapkan kemampuan mendengar dinilai sangat tidak berterimakasih kepada Tuhan, walaupun penggunaan daya itu untuk mendengarkan fitnah dan memburuk-burukkan orang lain akan merupakan perbuatan dosa. Meninggalkan makan (kecuali pada saat-saat yang diperintahkan atau dipandang baik) dapat dianggap bunuh diri dan dengan demikian merupakan dosa yang tak dapat dimaafkan, walaupun juga menjadi dosa untuk seseorang yang sangat mementingkan makanan dan minuman atau mengasyikkan diri dalam makan-minum barang-barang terlarang atau tidak layak. Itulah asas luhur yang diajarkan dan ditekankan oleh Rasulullah saw. dan yang belum diajarkan oleh nabi terdahulu manapun.
Penggunaan tepat daya alami merupakan taraf akhlak yang tinggi, menggagalkan kerja atau melumpuhkan daya itu merupakan perbuatan yang bodoh. Penyalahgunaannya itulah yang merupakan kejahatan dan dosa. Penggunaan tepat kemampuan-kemampuan itu merupakan nilai akhlak yang sejati. Itulah inti ajaran akhlak yang ditanamkan oleh Rasulullah saw. Dan, pendek kata, itu semua merupakan pula gambaran kehidupan dan perilaku beliau. Siti Aisyah ra. meriwayatkan: “Bilamana Rasulullah dihadapkan kepada pilihan antara dua cara berbuat, beliau senantiasa memilih jalan yang termudah, asalkan bebas dari segala kecurigaan bahwa itu salah satu dosa. Kalau arah perbuatan itu membuka kemungkinan timbulnya kecurigaan serupa itu, maka Rasulullah saw. itulah orangnya, dari antara seluruh umat manusia, yang paling menjauhinya” (Muslim, Kitabal-Fada’il). Hal itu sungguh merupakan jalan yang paling luhur dan paling mengagumkan untuk manusia. Beberapa orang dengan sukarela menderita sakit dan berkekurangan, tidak dengan tujuan untuk mencari keridaan Ilahi, sebab rida Ilahi tidak dapat dicapai dengan mencari sakit dan derita bagi dirinya sendiri yang tak bertujuan apapun selain dengan tujuan menipu umat manusia. Orang demikian mempunyai sedikit kebaikan dalam diri mereka tetapi mau menutupi kesalahan-kesalahan mereka dan mendapat kehormatan dalam pandangan orang-orang lain dengan menggunakan kebaikan semu. Tetapi tujuan Rasulullah saw. adalah untuk menggapai kebaikan yang sungguh-sungguh dan guna menarik rida Ilahi. Dengan demikian beliau sama sekali bebas dari kepalsuan dan kepura-puraan. Karena itu beliau sama sekali bersih dari kepura-puraan. Bahwa dunia akan memandang beliau jahat atau akan mempunyai penilaian baik adalah soal yang beliau sama sekali tidak menghiraukan. Apa yang penting untuk beliau adalah bagaimana beliau sendiri menilai diri sendiri dan bagaimana Tuhan akan menilainya. Jika di samping kesaksian kata hati beliau sendiri dan rida Ilahi beliau mendapat juga persaksian yang benar dari umat manusia, beliau sangat bersyukur, tetapi jika orang memandang kepada beliau dengan pandangan iri hati dan curiga, beliau merasa sayang terhadap nasib mereka dan beliau tidak menghiraukan pendapat mereka.
SIKAP TERHADAP ISTRI-ISTRI SENDIRI
Beliau sangat baik dan adil terhadap istri-istri sendiri. Jika pada suatu saat salah seorang di antara mereka tidak dapat membawa diri dengan hormat yang layak terhadap beliau, beliau hanya tersenyum dan hal itu dilupakan beliau. Pada suatu hari beliau bersabda kepada Siti Aisyah ra., “Aisyah, jika ‘kau sedang marah kepadaku, aku senantiasa dapat mengetahuinya.” Aisyah ra. bertanya, “Bagaimana?” Beliau menjawab, “Aku perhatikan bahwa jika kau senang kepadaku dan dalam percakapan kau menyebut nama Tuhan, ‘kau sebut Dia sebagai Tuhan Muhammad. Tetapi, jika ‘kau tidak senang kepadaku, ‘kau sebut Dia Tuhan Ibrahim.” Mendengar keterangan itu Aisyah ra. tertawa dan mengatakan bahwa beliau benar (Bukhari, Kitabun-Nikah). Siti Khadijah ra. adalah istri beliau yang pertama dan telah mengadakan pengorbanan-pengorbanan besar untuk kepentingan beliau. Ia jauh lebih tua daripada Rasulullah saw. Sesudah ia wafat, beliau menikah dengan wanita-wanita yang lebih muda, tetapi tidak pernah kenang-kenangan kepada Khadijah ra. itu menjadi luntur. Bila saja salah seorang dari sahabat-sahabat Khadijah berkunjung kepada beliau, beliau biasa berdiri menyambutnya (Muslim). Jika beliau kebetulan melihat sesuatu yang dahulu menjadi milik atau ada kaitan dengan Khadijah ra., hati beliau senantiasa terusik oleh rasa sendu.
Di antara tawanan-tawanan yang ditangkap oleh kaum Muslimin dalam Perang Badar ada seorang mantu Rasulullah saw. Ia tak punya apa-apa untuk dibayarkan sebagai penebus kemerdekaannya. Istrinya yang bernama Zainab (puteri Rasulullah saw.) mengirimkan ke Medinah seuntai kalung perhiasan yang asalnya milik ibunya (Khadijah ra.) dan menyerahkannya sebagai penebus suaminya. Ketika Rasulullah saw. melihat kalung itu, beliau mengenalnya kembali dan beliau bukan buatan terharunya. Beliau bersabda kepada para sahabat, “Aku tidak berhak memberi petunjuk mengenai hal ini, tetapi aku tahu bahwa kalung ini dicintai oleh Zainab sebagai tanda kenang-kenangan kepada ibunya yang telah wafat. Maka, jika hal itu ada artinya untuk kalian, aku ingin menganjurkan supaya Zainab tidak kehilangan barang ini dan barang ini dikembalikan kepadanya.” Mereka semua menegaskan bahwa tidak ada kesenangan yang lebih besar daripada itu dan bersedia menerima anjuran beliau (Halbiyya, jilid 2). Beliau sering memuji-muji Khadijah di hadapan istri-istri beliau lainnya dan menekankan kebaikannya dan pengorbanannya untuk kepentingan Islam. Pada suatu peristiwa semacam itu Aisyah ra. merasa iri hati dan berkata, “Ya Rasulullah, mengapa selalu membicarakan wanita tua itu? Tuhan telah menganugerahkan istri-istri yang lebih baik, lebih muda dan lebih menarik kepada Anda.” Rasulullah saw. tersinggung perasaannya mendengar kata-kata itu dan menukas, “Tidak, Aisyah! Kau tidak tahu betapa besar kebaikan Khadijah kepadaku (Bukhari).
KETINGGIAN AKHLAK
Beliau senantiasa sangat sabar dalam kesukaran dan kesusahan. Beliau, dalam keadaan susah, tak pernah putus asa, dan beliau tidak pernah dikuasai oleh suatu keinginan pribadi. Telah diriwayatkan bahwa ayah beliau meninggal dunia sebelum beliau dilahirkan dan ibu beliau berpulang ketika beliau masih kanak-kanak. Sampai usia delapan tahun beliau dirawat oleh kakek beliau dan, sepeninggalnya, dirawat oleh pamanda, Abu Thalib. Terdorong oleh cinta kasih pribadi dan juga atas pesan ayahnya, Abu Thalib senantiasa membimbing anak kemenakannya dengan sungguh-sungguh dan murah hati, tetapi istrinya tidak dihinggapi oleh pertimbangan dan perasaan yang sama seperti suaminya. Seringkali terjadi ia membagi-bagi sesuatu di antara anak-anaknya sendiri dan mengabaikan anak kemenakan yang masih kecil itu. Jika Abu Thalib, pada peristiwa serupa itu, kebetulan datang ke rumah lalu dilihatnya kemenakan kecil itu duduk menyendiri, penuh komara, tanpa tanda murung atau sedih diwajahnya, beliau atas dorongan rasa cinta dan kesadaran atas kewajibannya lantas melangkah menuju anak itu, mendekapnya seraya berseru, “Perhatikan juga anakku yang satu ini!” Peristiwa semacam itu tidak jarang, dan mereka yang menyaksikan semuanya sepakat dalam persaksian mereka bahwa Muhammad sebagai anak-anak tidak pernah menampakkan gejala keterpengaruhan oleh perlakuan-perlakuan itu dan beriri hati terhadap saudara-saudara sepupunya. Kemudian hari, ketika beliau sudah mampu menolong dan merawat sanak-saudaranya, beliau sendiri merawat dan mendidik putra-putra pamannya, Ali dan Jafar dan menjalankan kewajiban beliau dengan cara yang sesempurna-sempurnanya.
Rasulullah saw. sepanjang hidup dihadapkan kepada rentetan pengalaman demi pengalaman yang pahit. Dilahirkan sebagai anak yatim, ibu beliau wafat ketika beliau masih kecil dan kehilangan kakek pada usia delapan tahun. Setelah menikah, beliau harus menanggung sedih oleh kehilangan beberapa anak, yang satu sesudah yang lain, dan kemudian istri beliau, Khadijah, yang sangat dicintai dan dirasakan pengabdiannya, wafat. Beberapa istri beliau yang dinikahi kemudian meninggal dunia di masa hidup beliau. Menjelang akhir kehidupan beliau menanggung derita akibat kehilangan putra beliau, Ibrahim. Semua kehilangan dan malapetaka itu ditanggung beliau dengan tabah, dan tak satu pun berpengaruh kepada kebulatan tekad beliau atau kepada perangai yang ramah beliau itu. Kesedihan-kesedihan pribadi tak pernah dipamerkan di muka umum dan beliau senantiasa menjumpai tiap-tiap orang dengan wajah yang berseri dan dengan perlakuan yang sama, ramah dan sopan-santunnya. Sekali peristiwa beliau menjumpai seorang wanita yang baru ditinggal mati oleh anaknya, dan melolong-lolong dekat kuburan anaknya. Beliau menasihatkan agar bersabar dan menerima takdir Tuhan dengan rela dan menyerahkan diri. Wanita itu tidak mengetahui bahwa ia ditegur oleh Rasulullah saw. dan menjawab, “Andaikan engkau pernah mengalami sedih ditinggal mati oleh anak seperti yang kualami, engkau akan mengetahui betapa sukar untuk bersabar di bawah himpitan penderitaan serupa itu.” Rasulullah saw. menjawab, “Aku telah kehilangan bukan seorang tetapi tujuh anak” – dan beliau terus berlalu. Selain ketika menyinggung kehilangan atau kemalangan beliau dengan cara yang tidak langsung demikian, beliau tidak pernah dihanyutkan perasaan sedih yang berlarut-larut atau membiarkan kemalangan-kemalangan itu menghalangi pengabdian beliau yang tidak ada henti-hentinya kepada seluruh umat manusia dan kebersamaan beliau menanggung segala beban penderitaan mereka.
MENGUASAI DIRI
Beliau senantiasa dapat menguasai diri. Bahkan ketika beliau sudah menjadi orang yang paling berkuasa sekalipun selalu beliau mendengarkan dengan sabar kata tiap-tiap orang, dan jika seseorang memperlakukan beliau dengan tidak sopan, beliau tetap melayaninya dan tidak pernah mencoba mengadakan pembalasan. Kebiasaan orang timur dalam menunjukkan penghormatan terhadap orang lain yang diajak bicara ialah dengan tidak memanggil dengan nama pribadinya. Kaum Muslimin biasa memanggil Rasulullah saw. dengan kata-kata, “Ya Rasulullah” dan kaum bukan-muslim memanggil beliau, Abul Qasim (artinya bapak si Wasim, karena salah seorang anak beliau bernama Qasim). Sekali peristiwa seorang orang Yahudi datang kepada beliau di Medinah dan mulai bertukar pikiran dengan beliau. Dalam percakapan itu ia berulang-ulang memanggil, “Hai Muhammad, hai Muhammad.” Rasulullah saw. sendiri tidak menghiraukan cara sapaan itu dan terus dengan tenangnya menerangkan soal yang dipercakapkan. Tetapi para sahabat menjadi marah atas panggilan kurang sopan yang dipergunakan oleh orang itu sampai akhirnya seorang di antara mereka tidak dapat menguasai dirinya lagi dan memperingatkan agar tidak menyebut Rasulullah saw. dengan nama asli beliau, tetapi dengan sebutan Abul Qasim. Orang Yahudi itu mengatakan bahwa ia akan menyebut beliau dengan nama yang diberikan oleh orang tua beliau. Rasulullah saw. tersenyum dan bersabda, “Ia benar, aku diberi nama Muhammad pada saat aku dilahirkan dan sama sekali tidak ada alasan untuk marah karena ia memanggilku dengan nama itu.” Kadang-kadang orang menghentikan beliau di perjalanan dan mengajak bercakap-cakap, menerangkan kebutuhannya dan meminta pertolongan kepada beliau. Beliau selalu mendengarkan dengan penuh sabar dan membiarkan mereka terus bicara dan beliau baru meneruskan perjalanan kalau sudah urusannya selesai. Pada waktu orang-orang berjumpa dan bersalam-salaman, orang kadang-kadang memegang tangan beliau beberapa lama, dan walaupun beliau beranggapan hal itu kurang enak dan membuang percuma waktu yang berharga, tidak pernah beliau lebih dahulu melepaskan tangan. Orang bergaul bebas dengan beliau, memaparkan kesusahan dan kesukaran mereka kepada beliau serta meminta pertolongan beliau. Jika beliau mampu memberikannya, beliau tidak pernah menolak.
Terkadang beliau diusik orang-orang dengan aneka ragam permintaan yang sangat berat dan mendesak, tetapi beliau selalu mengabulkan dan melaksanakan sejauh kemungkinan beliau. Sekali peristiwa, setelah memenuhi suatu permintaan, beliau memberi nasihat kepada orang yang bersangkutan agar lebih bertawakal kepada Tuhan dan menjauhi kebiasaan meminta kepada orang lain untuk meringankan bebannya.
Pada suatu hari seorang orang muslim yang mukhlis minta uang untuk kesekian kalinya kepada beliau dan tiap-tiap kali permintaannya diluluskan, tetapi hari itu beliau bersabda, “Sebaiknya seseorang bertawakal kepada Tuhan dan menjauhi kebiasaan meminta-minta.” Orang tersebut seorang mutaki. Untuk menjaga perasaan Rasulullah saw. pemberian itu tidak dikembalikan tetapi ia bersumpah tidak akan meminta apa pun kepada siapa juga pada hari-hari mendatang dalam keadaan bagaimana juga. Beberapa tahun kemudian ia ikut serta dalam suatu peperangan. Ia menunggang kuda dan ketika pertempuran tengah berkecamuk, saat riuh gemerincingnya senjata dengan sejata saling beradu sampai di puncaknya dan ia dikepung musuh, cambuknya terlepas dan jatuh. Seorang prajurit muslim yang berjalan kaki melihat keadaan itu dan membungkuk untuk mengambilkan cambuk itu, tetapi orang berkendaraan itu melarangnya, lalu ia sendiri melompat dari kudanya dan mengambil cambuk itu sambil berkata bahwa ia telah lama berjanji kepada Rasulullah saw. tidak akan meminta lagi pertolongan kepada siapa pun sehingga kalau mengizinkan sang prajurit itu mengambilkan cambuknya akan sama halnya seperti meminta pertolongan secara tidak langsung dan dengan demikian telah berdosa, melanggar janjinya kepada Rasulullah saw.
KEADILAN DAN PERLAKUAN ADIL
Bangsa Arab sangat suka mengagumi pribadi-pribadi tertentu dan menerapkan berbagai patokan kepada berbagai orang. Bahkan di antara bangsa-bangsa yang disebut beradab dewasa ini kita menyaksikan adanya keengganan mengadakan tuntutan terhadap orang-orang terkemuka atau yang mempunyai kedudukan atau jabatan yang tinggi atas perbuatan mereka, walaupun hukum diberlakukan secara ketat terhadap warganegara biasa. Tetapi, Rasulullah saw. adalah mandiri dalam menerapkan keadilan dan perlakuan adil. Sekali peristiwa suatu perkara dihadapkan kepada beliau tatkala seorang bangsawati terbukti telah melakukan pencurian. Hal itu menggemparkan, karena jika hukuman yang berlaku dikenakan terhadap wanita muda usia itu, martabat suatu keluarga sangat terhormat akan jatuh dan terhina. Banyak yang ingin mendesak Rasulullah saw., demi kepentingan orang yang berdosa itu, tetapi tidak mempunyai keberanian. Maka Usama diserahi tugas melaksanakan itu. Usama menghadap Rasulullah saw. tetapi serenta beliau mengerti maksud tugasnya itu, beliau sangat marah dan bersabda, “Kamu sebaiknya menolak. Bangsa-bangsa telah celaka karena mengistimewakan orang-orang kelas tinggi tapi berlaku kejam terhadap rakyat jelata. Islam tidak mengizinkan dan aku pun sekali-kali tidak akan mengizinkan. Sesungguh-sungguhnya, jika Fatimah, anakku sendiri, melakukan kejahatan, aku tidak akan segan-segan menjatuhkan hukuman yang adil” (Bukhari, Kitab-al-Hudud).
Telah diriwayatkan bahwa ketika paman Rasulullah saw. Abbas, menjadi tawanan Perang Badar, ia diikat erat-erat seperti tawanan-tawanan lainnya dengan tali untuk mencegah usaha melarikan diri. Tali itu begitu eratnya sehingga ia mengerang kesakitan sepanjang malam. Rasulullah saw. mendengar erangan itu dan karenanya beliau tidak dapat tidur. Para sahabat mengetahui hal itu dan melonggarkan ikatan Abbas. Ketika Rasulullah saw. mengetahuinya, beliau memerintahkan supaya semua tawanan diperlakukan sama seperti paman beliau dengan mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk menunjukkan keistimewaan kepada keluarga beliau sendiri. Beliau menuntut mereka supaya melonggarkan ikatan semua tawanan atau kebalikannya memperkuat lagi ikatan Abbas seperti tawanan-tawanan lain. Karena para sahabat tidak menghendaki beliau gundah hanya karena paman beliau, mereka memutuskan untuk menjaga tawanan-tawanan itu lebih keras lagi dan melonggarkan ikatan semua tawanan (Zurqani, Jilid 3, hlm.279).
Bahkan dalam keadaan bahaya perang pun beliau sangat cermat dalam melaksanakan peraturan-peraturan dan kebiasaan-kebiasaan yang baku. Sekali peristiwa beliau mengirim serombongan sahabat pada sebuah ekspedisi penyelidikan. Mereka bertemu dengan beberapa orang musuh pada hari akhir bulan suci Rajab. Berpikir bahwa akan sangat berbahaya melepaskan mereka itu sehingga akan membawa berita ke Mekkah tentang rombongan penyelidik yang begitu dekat, musuh itu disergap oleh mereka dan dalam perkelahian itu seorang di antaranya terbunuh. Setelah rombongan penyelidik itu kembali ke Medinah, kaum Mekkah mengajukan protes bahwa penyelidik-penyelidik Muslim telah membunuh salah seorang dari orang-orang mereka. Orang-orang Mekkah sendiri sering melanggar bulan suci dalam menghadapi orang-orang muslim bila hal itu dipandang mereka itu baik, dan sebenarnya telah menjadi jawaban yang layak terhadap tuduhan mereka itu untuk mengatakan bahwa karena kaum Mekkah sendiri telah melanggar perjanjian tentang bulan suci maka mereka itu tidak berhak menuntut supaya dipatuhi oleh kaum muslimin. Tetapi, Rasulullah saw. tidak memberikan jawaban demikian. Beliau sangat menyesali anggota-anggota rombongan itu, menolak menerima harta rampasan perang dan menurut beberapa riwayat malah membayar uang darah untuk orang yang terbunuh itu, sehingga ayat 2:218 menjernihkan seluruh keadaan (Tabari dan Halbiyyah).
Orang-orang pada umumnya berhati-hati supaya jangan menyakiti perasaan sahabat-sahabat mereka dan sanak-saudara mereka, tapi Rasulullah saw. sangat memperhatikan asas itu malah terhadap orang-orang yang memusuhi beliau sekalipun. Sekali peristiwa seorang-orang Yahudi datang kepada beliau dan menerangkan bahwa Abu Bakar telah melukai perasaannya dengan mengatakan bahwa Tuhan telah memberi kedudukan kepada Nabi Muhammad saw. lebih tinggi di atas Nabi Musa as. Rasulullah saw. memanggil Abu bakar dan menanyakan kepadanya, apa yang telah dikatakannya. Abu Bakar menerangkan bahwa orang Yahudi itu mulai lebih dahulu menyatakan bahwa ia bersumpah dengan nama Musa as. yang Tuhan, menurut kata orang itu, telah memuliakannya di atas seluruh umat manusia dan bahwa Abu Bakar menyambutnya dengan bersumpah atas nama Muhammad saw. yang Tuhan telah mengangkatnya di atas Nabi Musa as. Rasulullah saw. bersabda, “Anda seharusnya tidak mengatakan itu, karena perasaan orang-orang lain harus diperhatikan juga. Siapa pun tidak boleh mengangkatku di atas Nabi Musa as.” (Bukhari, Kitab al-Tauhid). Hal itu tidak berarti bahwa Rasulullah saw. menurut kenyataannya tidak mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada Nabi Musa as. tetapi menyatakan hal itu kepada orang Yahudi mudah menyakiti perasaannya dan hal itu harus dihindarkan.
PERHATIAN TERHADAP ORANG-ORANG MISKIN
Rasulullah saw. senantiasa prihatin memikirkan untuk memperbaiki keadaan golongan yang miskin dan mengangkat taraf hidup mereka di tengah-tengah masyarakat. Sekali peristiwa, ketika beliau sedang duduk-duduk dengan para sahabat, lalulah seorang kaya. Rasulullah saw. menanyakan kepada salah seorang dari para sahabat, apa pendapatnya tentang orang itu. Ia menjawab, “Ia seorang berada lagi terkenal. Jika ia meminang seorang gadis idamannya akan diterima baik dan jika ia menjadi perantara untuk kepentingan seseorang, perantaraannya itu akan diterima.” Tak lama kemudian, lalulah seorang orang lain yang nampaknya miskin dan tidak mampu. Rasulullah saw. menanyakan kepada sahabat tadi, bagaimana orang itu menurut pendapatnya. Ia menjawab, “Ya Rasulullah! Ia seorang orang miskin. Jika ia meminang seorang gadis, permintaannya tidak akan diterima dengan baik dan jika ia menjadi perantara untuk seseorang perantaraannya akan ditolak dan jika ia berusaha mengajak bercakap-cakap dengan seseorang, ia tidak akan mendapat perhatian.” Setelah mendengar jawaban itu, Rasulullah saw. bersabda, ”Nilai orang miskin itu jauh lebih tinggi dari nilai sejumlah emas yang cukup untuk mengisi sekalian alam” (Bukhari, Kitabal-Riqaq).
Seorang wanita Muslim biasa membersihkan Mesjid Nabi di Medinah. Rasulullah saw. tidak melihatnya lagi di mesjid sudah beberapa hari dan beliau menanyakan ihwalnya. Disampaikan kepada beliau bahwa ia sudah meninggal. Beliau bersabda, “Mengapa aku tidak diberi tahu kalau ia meninggal? Aku pasti akan ikut dalam sembahyang jenazahnya,” dan menambahkan “Barangkali kalian tidak memandangnya cukup penting karena ia miskin. Anggapan itu salah. Bawalah aku ke kuburannya.” Kemudian beliau pergi ke sana dan mendoa untuk dia (Bukhari, Kitabal-Salat). Beliau biasa bersabda bahwa ada orang-orang dengan rambut kusut-masai, tubuhnya tertutup dengan debu, dan mereka tidak disambut oleh orang-orang berada, tetapi begitu tinggi dihargai Tuhan sehingga jika dengan bertawakal kepada Tuhan mereka bersumpah atas nama Allah bahwa suatu hal akan mengalami perubahan, Tuhan akan membantu mereka” (Muslim, Kitabal-Bir wal Sila). Sekali peristiwa beberapa sahabat, bekas budak-budak tapi sudah dimerdekakan, bersama-sama duduk ketika Abu Sufyan (seorang pemimpin Kuraisy yang memerangi kaum Muslim sampai jatuhnya Mekkah dan baru masuk Islam pada peristiwa itu) lalu ke situ. Para sahabat menegurnya dan mengingatkannya kembali kepada kemenangan yang dianugerahkan Tuhan kepada Islam. Abu Bakar mendengarnya dan tidak berkenan di hatinya bahwa seorang pemimpin Kuraisy diperingatkan kepada penghinaan yang dideritanya, lalu kumpulan sahabat itu ditegurnya. Ia menghadap Rasulullah saw. dan menceritakan peristiwa itu kepada beliau. Rasulullah saw. bersabda, “Hai Abu Bakar! Aku khawatir engkau telah melukai hati hamba-hamba Allah itu. Jika demikian, Tuhan akan murka terhadapmu.” Abu Bakar segera kembali kepada para sahabat itu dan bertanya, “Wahai saudara-saudarku! Apakah saudara-saudara sakit hati atas apa yang kukatakan tadi? Mereka menjawab, “Kami tidak mendendam atas perkataan anda. Semoga Tuhan memaafkan anda” (Bukhari, Kitab al-Fada’il).
Tetapi, sementara Rasulullah saw. menuntut supaya kaum miskin dihargai dan perasaan mereka tidak dilukai dan memenuhi segala kebutuhan mereka, beliau berusaha juga meresapkan rasa harga diri ke dalam hati mereka dan mengajarkan agar tidak meminta-minta. Beliau biasa mengatakan bahwa tidak pantas bagi seorang orang miskin merasa puas dengan sebutir atau dua butir kurma atau sesuap atau dua suap makanan, tetapi ia harus menghindarkan diri dari meminta-minta, betapa beratnya juga percobaan yang dihadapinya (Bukhari, Kitab al-Kusuf). Sebaliknya, beliau biasa mengatakan juga bahwa tidak ada suatu kenduri mendapat berkah selama beberapa orang miskin juga tidak diundang. Aisyah ra. menceritakan bahwa seorang wanita miskin pada suatu ketika datang kepada beliau disertai oleh dua anak perempuannya yang masih kecil. Aisyah ra. tak punya apa-apa pada saat itu kecuali sebutir kurma yang dapat diberikan oleh beliau kepada wanita itu. Wanita itu membagikannya kepada dua anaknya yang kecil itu dan kemudian mereka itu berlalu. Ketika Rasulullah saw. tiba di rumah, Aisyah ra. menceritakan hal itu kepada beliau dan Rasulullah saw. bersabda, “Jika seorang orang miskin mempunyai anak-anak perempuan dan ia memperlakukannya dengan baik, Tuhan akan menyelamatkan dia dari api neraka,” dan menambahkan, “Tuhan akan menyediakan surga kepada wanita itu disebabkan oleh perlakuan baiknya terhadap anak-anak perempuan” (Muslim). Sekali peristiwa diceritakan kepada beliau bahwa seorang sahabat bernama Said, seorang yang berada, membanggakan diri tentang hasil usahanya kepada orang-orang lain. Ketika Rasulullah saw. mendengar hal itu, beliau bersabda, “Janganlah seorang menyangka bahwa kekayaan atau kedudukan atau kekuasaannya adalah semata-mata buah usahanya sendiri. Keadaannya tidak demikian. Kekuasaanmu, kedudukanmu dan kekayaanmu, semuanya diperoleh dengan perantaraan si miskin.”
Salah satu doa beliau ialah, “Ya Tuhan! Buatlah hamba ini tetap merendahkan diri selama hamba hidup, dan buatlah hamba merendahkan diri jika hamba mati dan bangkitkanlah hamba pada Hari Pembalasan bersama mereka yang merendahkan diri” (Tirmidhi, Abwab al-Zuhd).
Sekali peristiwa di musim panas, ketika beliau berjalan melalui suatu jalan raya dilihat beliau seorang muslim yang sangat miskin sedang memikul barang-barang berat dari suatu tempat ke tempat yang lain. Ia seorang dengan paras amat sederhana dan nampak lebih tidak menarik lagi dengan baju kotor oleh keringat dan debu. Pandangannya sayu. Rasulullah saw. mendekatinya dengan diam-diam dari belakang dan beliau seperti anak-anak kadang-kadang berbuat dalam senda gurau, menjulurkan tangan beliau ke muka dan menutup mata kuli itu agar ia menerka siapa beliau. Orang itu menjulurkan tangannya ke belakang dan sambil meraba-raba badan Rasulullah saw. ia mengetahui bahwa Rasulullah saw. lah yang ada di belakangnya. Barangkali ia dapat menerka juga bahwa tak ada seorang orang lain yang memperlihatkan kecintaan yang begitu mesra terhadap orang seperti dia. Karena hatinya senang dan padanya timbul keberanian, ia merapatkan dirinya ke tubuh Rasulullah saw. serta menggosok-gosokkan badannya yang berdebu dan berkeringat itu ke pakaian Rasulullah, barangkali hendak meyakinkan dirinya sampai di mana Rasulullah saw. mau membiarkan dirinya diperlakukan serupa itu. Rasulullah saw. tetap mengulum senyum dan tidak menyuruhnya berhenti dari perbuatan itu. Ketika orang itu telah merasa puas dan juga merasa terharu, Rasulullah saw. bertanya, “Aku mempunyai seorang budak. Adakah, menurut pendapatmu, orang yang mau membelinya?”
Orang itu menyadari bahwa barangkali tak ada seorang pun di seluruh dunia kecuali Rasulullah saw. sendiri yang berminat kepadanya dan dengan menghela nafas sedih ia menjawab, “Ya Rasulullah. Tidak ada seorang pun di bumi ini yang bersedia membeliku.”
Rasulullah saw. bersabda, “Tidak! Tidak! Kamu jangan berkata demikian. Kamu sangat berharga dalam pandangan Ilahi” (Syarh al-Sunnah).
Bukan saja beliau sangat prihatin akan kesejahteraan si miskin, tetapi beliau senantiasa menganjurkan pula kepada orang-orang lain untuk berbuat serupa.
Abu Musa Asy’ari meriwayatkan bahwa jika seorang miskin menghadap Rasulullah saw. dan mengajukan permintaan, beliau biasa bersabda kepada orang di sekitar beliau, “Kamu juga hendaknya memenuhi permintaannya itu sehingga mendapat pahala sebagai orang yang berperan serta dalam menggalakkan perbuatan baik” (Bukhari dan Muslim), dengan tujuan membangkitkan rasa cenderung untuk menolong si miskin di satu pihak dalam hati para sahabat, dan di pihak lain menimbulkan kesadaran dalam hati kaum fakir-miskin adanya cinta dan rasa kasih saudara-saudara mereka yang kaya.
MENJAGA KEPENTINGAN SI MISKIN
Ketika Islam berangsur diterima secara umum oleh bagian terbesar bangsa Arab, Rasulullah saw. sering menerima barang dan uang berlimpah-limpah, beliau segera membagi-bagikan hadiah-hadiah itu di antara mereka yang sangat membutuhkan. Sekali peristiwa anak beliau, Fatimah, datang mendapatkan beliau dan sambil memperlihatkan telapak tangannya yang tebal dan keras akibat pekerjaan menepung gandum dengan batu, memohon agar diberi seorang budak untuk meringankan pekerjaannya. Rasulullah saw. menjawab, “Aku akan menceritakan kepadamu sesuatu yang nanti akan terbukti jauh lebih berharga daripada seorang budak. Jika engkau mau tidur pada malam hari, engkau hendaknya membaca Subhanallah tiga puluh tiga kali, Alhamdulillah tiga puluh tiga kali dan Allahu Akbar tiga puluh empat kali. Hal itu akan jauh lebih banyak menolongmu daripada memelihara seorang budak” (Bukhari).
Sekali peristiwa tengah membagi-bagikan uang, sekeping mata uang terjatuh, meluncur, dan menghilang. Sesudah selesai membagi-bagikan uang itu beliau pergi ke mesjid untuk memimpin sembahyang. Beliau biasa duduk-duduk sejenak selepas sembahyang berzikir Ilahi. Sesudah itu orang-orang diberi kesempatan untuk menghadap dan bertanya atau mengajukan permohonan. Tapi kali itu, begitu usai sembahyang, beliau bangkit dan cepat-cepat pulang. Beliau mencari mata uang yang hilang tadi dan sesudah ditemukannya kembali, beliau kembali dan memberikan uang itu kepada seorang-orang yang membutuhkannya. Beliau menerangkan bahwa mata uang itu jatuh ketika membagi-bagikan uang dan hal itu kemudian beliau lupakan, tetapi ketika dengan tiba-tiba pada waktu mengimami sembahyang teringat kembali maka beliau menjadi gelisah karena di usik pikiran bahwa jika beliau wafat sebelum menemukan kembali uang itu dan memberikannya kepada orang yang membutuhkan, beliau akan dituntut pertanggungjawaban di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya beliau meninggalkan mesjid begitu tergesa-gesa untuk menemukan kembali uang tersebut (Bukhari, Kitab al-Kusuf).
Karena besarnya minat beliau menjaga kepentingan kaum fakir-miskin beliau begitu jauh sehingga beliau menetapkan bahwa untuk selama-lamanya sedekah tidak boleh diberikan kepada keturunan beliau, karena khawatir jangan-jangan orang-orang muslim, karena cinta dan bakti terhadap beliau, pada suatu waktu akan mengutamakan sedekah kepada keturunan beliau dan dengan demikian merampas hak kaum fakir-miskin. Sekali peristiwa seseorang membawa kepada beliau sejumlah kurma dan mempersembahkannya sebagai sedekah. Cucu beliau, Imam Hassan, yang pada saat itu baru berusia dua setengah tahun, kebetulan duduk-duduk bersama Rasulullah saw. Ia mengambil sebutir kurma dan memasukkan ke dalam mulut. Rasulullah saw. segera memasukkan jari ke dalam mulut si anak dan mengeluarkan kurma itu dengan paksa sambil bersabda, “Kita tidak berhak atas ini. Ini hak orang-orang miskin dari antara makhluk Tuhan” (Bukhari, Kitab al-Kusuf).
PERLAKUAN TERHADAP BUDAK-BUDAK
Beliau senantiasa menganjurkan kepada mereka yang mempunyai budak-budak supaya memperlakukan mereka dengan baik serta kasih sayang. Beliau menetapkan bahwa jika si pemilik memukul budaknya atau memaki-makinya, maka satu-satunya perbaikan yang dapat dilakukannya ialah memerdekakannya (Muslim, Kitab al-Iman). Beliau membuat sarana untuk, dan mendorong, memerdekakan budak pada tiap-tiap kesempatan. Beliau bersabda, “Jika seseorang mempunyai budak-budak lalu memerdekakan mereka, Tuhan akan membalasnya dengan menyelamatkan tiap-tiap bagian tubuhnya sesuai dengan tiap-tiap bagian tubuh budak itu dari siksaan neraka.” Pula, beliau menetapkan bahwa seorang budak hendaknya disuruh hanya melaksanakan tugas-tugas yang ia dengan mudah dapat melakukannya dan bahwa jika ia telah diberi tugas, tuannya hendaknya membantu melakukannya sehingga budak itu tidak boleh mengalami perasaan dihina atau direndahkan (Muslim). Jika tuannya bepergian dan diikuti oleh seorang budaknya, maka menjadi kewajiban bagi tuannya untuk menaiki tunggangan baik bersama-sama atau bergantian. Abu Hurairah yang biasa mengisi semua waktunya, setelah ia masuk Islam, dengan ikut bersama Rasulullah saw. dan acapkali mendengarkan fatwa Rasulullah saw. mengenai perlakuan terhadap budak-budak; ia berkata, “Aku bersumpah dengan nama Tuhan yang ditangan-Nya terletak kehidupanku bahwa seandainya tidak ada kesempatan ikut berjihad dan naik haji dan seandainya tidak mempunyai kesempatan mengkhidmati ibuku yang sudah tua aku ingin mati sebagai budak, karena Rasulullah saw. senantiasa menuntut supaya budak-budak diperlakukan dengan baik dan kasih-sayang (Muslim).
Ma’rur bin Suwaid meriwayatkan, “Aku melihat Abu Dharr Ghaffari (seorang sahabat) mengenakan pakaian yang betul-betul sama dengan pakaian yang dikenakan oleh budak-budaknya. Aku menanyakan kepadanya alasan tentang itu dan ia berkata, ‘Di zaman Rasulullah saw. sekali peristiwa aku memaki-maki seorang laki-laki dan menghinanya karena ibunya seorang budak. Menyaksikan hal itu Rasulullah saw. menyesaliku dan bersabda, ‘Kamu agaknya masih terbiasa dengan tingkah-laku jahiliyah. Apakah budak itu? Mereka saudaramu dan sumber kekuatanmu. Tuhan Yang Mahabijaksana telah memberikan kepadamu, untuk sementara waktu, kekuasaan di atas mereka. Yang mempunyai kekuasaan terhadap saudaranya, hendaknya memberi makan seperti ia makan sendiri, memberi pakaian seperti yang dipakai sendiri dan hendaknya tidak memberi tugas di luar kemampuannya dan membantunya dalam melaksanakan tugasnya.” Pada peristiwa lain Rasulullah saw. bersabda, “Jika pelayanmu memasak makanan untuk kamu dan menghidangkannya kepadamu, kamu hendaknya mengajaknya makan dan duduk bersama atau sekurang-kurangnya ikut makan sebagian makanan itu bersama kamu, sebab ia telah membuat dirinya berhak atas itu dengan bekerja menyiapkannya” (Muslim).
PERLAKUAN TERHADAP WANITA
Rasulullah saw. sangat berhasrat memperbaiki keadaan wanita di tengah masyarakat, menjamin mereka mendapat kedudukan terhormat dan perlakuan wajar lagi pantas. Islam adalah agama pertama yang memberikan hak waris kepada wanita. Alquran menjadikan anak-anak perempuan, bersama-sama dengan anak-anak lelaki, ahli waris kekayaan orang tua mereka. Demikian pula ibu menjadi ahli waris harta benda peninggalan anak laki-laki atau anak perempuan, dan seorang istri jadi ahli waris harta benda suaminya. Jika seorang saudara laki-laki menjadi ahli waris harta benda saudaranya yang meninggal, maka saudara perempuan juga jadi ahli waris harta-benda itu. Tidak ada agama sebelum Islam begitu jelas dan tegas dalam menjamin hak waris wanita dan hak memiliki harta kekayaan. Dalam Islam seorang wanita menjadi pemilik mutlak harta-bendanya sendiri dan suaminya tak dapat mempunyai hak sedikit pun mengendalikan harta-benda itu hanya semata-mata karena alasan ia suaminya. Seorang wanita bebas sepenuhnya bertindak atas harta bendanya menurut kehendaknya sendiri.
Rasulullah saw. begitu berhati-hati mengenai perlakuan terhadap wanita sehingga mereka di sekitar beliau, yang sebelumnya tidak biasa memandang kepada wanita sebagai kawan dan mitra, merasa sukar untuk menyesuaikan diri pada standar yang Rasulullah saw. begitu menghendaki sekali supaya dilaksanakan dan dipelihara. Sayyidina Umar meriwayatkan, “Istriku kadang-kadang berusaha mencampuri urusanku dengan memberi saran dan usul dan aku biasa memarahinya dengan mengatakan bahwa bangsa Arab tidak pernah mengizinkan istrinya mencampuri urusannya.” Ia membantah, “Masa itu telah lewat. Rasulullah saw. mengizinkan istri-istri beliau memberi saran dan usul dalam urusan beliau dan beliau tidak melarangnya. Mengapa engkau tidak mengikuti contoh beliau?” Maka aku biasa menjawab: Mengenai Aisyah, Rasulullah saw. sangat senang kepadanya, tetapi mengenai anakmu (Hafsah), jika ia berbuat demikian, pada suatu hari ia akan menderita oleh kelancangannya. Telah terjadi bahwa sekali peristiwa Rasulullah saw. marah, karena suatu sebab, memutuskan untuk hidup pisah dari istri-istri beliau, untuk sementara waktu. Ketika aku mengetahui itu kukatakan kepada istriku: Apa yang kutakutkan telah terjadi. Kemudian aku pergi ke rumah anakku, Hafsah dan mendapatkannya sedang menangis. Kutanyakan apa sebab-sebabnya, dan apakah Rasulullah saw. telah menceraikan. Ia menjawab, ‘Aku tak tahu apa-apa tentang perceraian, tetapi Rasulullah saw. telah memutuskan untuk hidup pisah, untuk sementara waktu dari kami semua.’ Bukankah aku telah sering mengatakan bahwa kau jangan begitu lancang seperti Aisyah terhadap beliau, sebab Rasulullah saw. sangat mencintai Aisyah, tetapi kau agaknya telah menerima akibat yang aku khawatirkan’ Kemudian aku menghadap Rasulullah saw. dan melihat beliau sedang berbaring di atas tikar kasar. Beliau pada waktu itu tidak memakai kemeja dan pada tubuh beliau nampak kesan tapak tikar. Aku duduk dekat beliau dan berkata, ‘Ya Rasulullah! Kaisar dan Kisra tidak berhak menikmati karunia Ilahi sedikit pun, tetapi walaupun demikian, mereka hidup dalam kemewahan, sedangkan Anda, sebagai Rasul Allah, begitu sengsara. Rasulullah saw. menjawab, ‘Itu tidak benar. Dari utusan-utusan Allah tidak diharapkan akan menggunakan waktunya dalam kesenangan. Kehidupan demikian hanya pantas untuk raja-raja duniawi’. Kemudian aku menyampaikan kepada Rasulullah apa yang terjadi antara istriku dan anakku. Mendengar hal itu Rasulullah saw. tertawa dan bersabda, ‘Tidak benar aku telah menceraikan istri-istriku. Aku hanya memandang ada baiknya kalau hidup untuk sementara waktu pisah dari mereka’ (Bukhari, Kitab al-Nikah).
Beliau begitu hati-hati mengenai perasaan wanita sehingga sekali peristiwa, ketika beliau memimpin sembahyang dan mendengar seorang anak menangis, beliau menyelesaikan salat secepat mungkin. Beliau menerangkan kemudian bahwa ketika beliau mendengar tangisan anak itu, beliau membayangkan bahwa ibu anak itu tentu amat gelisah, dan oleh karena itu beliau menyelesaikan salat itu dengan cepat sehingga ibu itu dapat pergi ke anaknya dan mengurusnya.
Jika dalam salah satu perjalanan beliau ada pula wanita-wanita ikut serta, beliau senantiasa memberi petunjuk supaya kafilah bergerak lambat dan berhenti-henti secara bertahap. Pada suatu kesempatan serupa itu ketika orang-orang mau sekali maju cepat, beliau bersabda, “Perhatikan kaca! Perhatikan kaca!” dengan maksud mengatakan bahwa ada wanita-wanita dalam rombongan dan bahwa jika unta-unta dan kuda-kuda berlari cepat, mereka itu akan menderita dari bantingan-bantingan binatang-binatang itu (Bukhari, Kitab al-Adab).
Pada suatu pertempuran timbul kekacauan di tengah barisan-barisan berkuda dan binatang-binatang itu pun tidak terkendalikan. Rasulullah saw. jatuh dari kuda, begitu pula beberapa wanita jatuh dari tunggangan mereka. Seorang dari antara sahabat-sahabat yang mengendarai unta dekat benar di belakang Rasulullah saw., turun dengan meloncat dan berlari-lari kepada Rasulullah saw. sambil berteriak. “Biarlah aku berkorban untuk anda, ya Rasulullah.” Kaki Rasulullah saw. masih tersangkut di sanggurdi. Beliau melepaskan dengan segera kaki itu dan bersabda, ”Jangan pedulikan aku, lekas tolong wanita-wanita itu.”
Sesaat sebelum beliau wafat, salah satu dari perintah yang ditujukkan kepada kaum Muslimin dan sangat ditekankan oleh beliau ialah, mereka hendaknya senantiasa memperlakukan wanita dengan baik dan kasih sayang. Beliau seringkali dan berulang-ulang mengatakan, jika seseorang mempunyai anak-anak perempuan dan ia telah berusaha agar mereka mendapat didikan dan ia berusaha keras memelihara mereka, Tuhan akan menyelamatkannya dari siksaan neraka (Tirmidhi).
Telah menjadi kebiasaan pada orang-orang Arab memberi siksaan jasmani kepada wanita atas tiap-tiap kesalahan kecil. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa wanita itu sama seperti pria selaku makhluk Tuhan dan bukan budak kaum pria dan tidak boleh dipukul. Tatkala wanita-wanita mengetahui hal itu, ulah mereka menjadi sama sekali terbalik dan mulai berani membantah kaum pria dalam segala hal, akibatnya ialah dalam beberapa rumah kedamaian dan ketenteraman rumah tangga senantiasa terganggu. Sayyidina Umar menerangkan hal itu kepada Rasulullah saw. dan berkata bahwa kecuali jika kaum wanita kadang-kadang boleh dihukum, mereka akan menjadi susah diatur dan tidak ada yang mengendalikan lagi. Karena ajaran Islam bertalian dengan perlakuan terhadap wanita-wanita belum diturunkan, Rasulullah saw. bersabda bahwa jika seorang wanita bertindak melampaui batas, ia boleh dihukum. Hal itu pada gilirannya menjadikan kaum pria, dalam beberapa hal, kembali kepada kebiasaan-kebiasaan Arab kuno. Sekarang datang lagi giliran kepada kaum wanita untuk mengeluh dan mereka membentangkan kesusahan kepada istri-istri Rasulullah saw. Akibatnya Rasulullah saw. menyesali kaum pria dan mengatakan kepada mereka bahwa siapa yang memperlakukan wanita-wanita secara tidak baik, tidak mungkin dapat menarik keridaan Ilahi. Kemudian hak-hak wanita ditetapkan, dan untuk pertama kalinya wanita mulai diperlakukan sebagai pribadi-pribadi yang mandiri dengan hak mereka masing-masing (Abu Daud, Kitab al-Nikah).
Mu’awiyah Al Qusyairi meriwayatkan, “Aku menanyakan kepada Rasulullah saw. hak apa istriku dapat menuntut daripadaku?” dan beliau menjawab, “Berilah dia makan dari apa-apa yang Tuhan telah merezekikan kepadamu dalam urusan makan, dan berilah ia pakaian yang Tuhan telah menganugerahkannya kepadamu dalam urusan pakaian, dan janganlah menyiksa atau memaki-maki atau mengusirnya dari rumahmu.”
Beliau begitu berhati-hati tentang perasaan wanita sehingga beliau senantiasa menganjurkan kepada orang-orang yang harus melakukan perjalanan supaya menyelesaikan urusan secepat-cepatnya dan pulang selekas mungkin sehingga wanita-wanita dan anak-anak mereka tidak akan menjadi resah karena pisah lebih daripada yang benar-benar diperlukan. Jika beliau pulang dari perjalanan, beliau biasa datang siang hari. Jika beliau kembali dari perjalanan sedang hari hampir malam, beliau biasa berkemah dahulu di luar Medinah pada malam itu sebelum masuk kota di waktu pagi esok harinya. Beliau mengatakan juga kepada pada sahabat bahwa jika mereka pulang dari suatu perjalanan, mereka hendaknya tidak pulang secara tiba-tiba tanpa memberi khabar lebih dahulu tentang kedatangan mereka kembali (Bukhari dan Muslim). Dalam memberikan petunjuk-petunjuk, beliau ingat akan kenyataan bahwa perhubungan antara dua jenis kelamin itu bagian besar dipengaruhi oleh perasaan. Dalam waktu suami tidak ada di rumah seorang wanita mungkin sering mengabaikan mengurus badan sendiri dan pakaiannya, dan jika suaminya tiba-tiba pulang tanpa diduga-duga, maka perasaan halus wanita mungkin akan tersinggung. Dengan memberi petunjuk bahwa jika seseorang pulang dari perjalanan hendaklah berusaha datang ke rumah pada siang hari dan lebih dahulu memberi kabar kepada anggota-anggota keluarga tentang kedatangannya, beliau meyakinkan bahwa anggota-anggota keluarga akan siap menerima anggota keluarga yang pulang itu dengan cara yang layak.
SIKAP TERHADAP ORANG YANG MENINGGAL
Beliau memerintahkan tiap-tiap orang supaya membuat surat wasiat tentang cara menyelesaikan urusannya sesudah ia meninggal dunia sehingga pihak yang bersangkutan tidak akan begitu disusahkan sepeninggalnya. Beliau menetapkan bahwa orang tidak boleh membicarakan keburukan seseorang yang telah meninggal melainkan hendaknya menekankan pada kebaikan apa saja yang dimiliki almarhum, sebab tidak ada faedahnya menyebut-nyebut kelemahan atau kejahatan orang yang sudah meninggal. Tetapi dengan mengemukakan kebaikan-kebaikan almarhum orang akan cenderung mendoakan (Bukhari). Beliau menegaskan mengenai orang yang meninggal supaya utang-utangnya dibayar lunas sebelum ia dikuburkan. Beliau seringkali melunasi utang seseorang yang telah meninggal dari saku beliau sendiri, tetapi jika beliau tidak mampu berbuat seperti itu, beliau menganjurkan kepada para ahli-waris dan sanak saudara orang yang meninggal atau orang-orang lain untuk membereskan utang-utangnya dan beliau tidak mau mendirikan sembahyang jenazah untuk orang yang telah meninggal sebelum utang-utangnya diselesaikan.
PERLAKUAN TERHADAP TETANGGA
Beliau senantiasa memperlakukan tetangga-tetangga beliau dengan ramah dan penuh pengertian sekali. Beliau sering mengatakan bahwa Malaikat Jibril telah menekankan begitu seringnya supaya kasih-sayang terhadap tetangga-tetangga sehingga beliau kadang-kadang mulai menyangka bahwa seorang tetangga barangkali harus dimasukkan ke dalam kalangan ahliwaris yang telah digariskan. Abu Dharr meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Abu Dharr, jika kuah daging sedang dimasak untuk keluargamu, tambahkanlah lebih banyak air kepada masakan itu agar tetanggamu juga mendapat bagiannya.” Hal itu tidak berarti bahwa tetangga jangan diundang untuk menikmati masakan-masakan lain, tetapi oleh karena kaum Arab pada umumnya adalah kaum kelana dan makanan yang paling digemari adalah gulai daging. Rasulullah saw. menyebut makanan itu sebagai makanan istimewa, dan mengajarkan bahwa seseorang hendaknya jangan begitu lebih mementingkan kelezatan makanan daripada kewajiban mengikutsertakan salah seorang tetangganya.
Abu Hurairah meriwayatkan: “Sekali peristiwa Rasulullah saw. berseru, ‘Aku bersumpah dengan nama Tuhan bahwa ia bukan orang beriman! Aku bersumpah dengan nama Tuhan bahwa ia bukan orang beriman! Aku bersumpah dengan nama Tuhan bahwa ia bukan orang beriman!’ Para sahabat menanyakan, ‘Siapakah yang bukan orang beriman itu, ya Rasulullah?’ dan beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak selamat terhadap kemudaratan dan perlakuan buruk dari tangan mereka. Sekali peristiwa ketika beliau berbicara kepada kaum wanita, beliau bersabda, ‘Jika seseorang hanya punya kaki kambing untuk dimasak, ia hendaknya membagi tetangganya.’ Beliau meminta orang-orang supaya jangan menaruh keberatan terhadap tetangganya memasang pasak ke dalam dinding rumahnya atau mempergunakan dinding untuk sesuatu keperluan lain yang tidak menimbulkan kerugian atau kerusakan.’ Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang beriman kepada Tuhan dan Hari Pembalasan hendaknya jangan mendatangkan kesusahan kepada tetangganya, orang yang beriman kepada Tuhan dan Hari Pembalasan hendaknya jangan mendatangkan kesusahan kepada tamunya dan orang yang beriman kepada Tuhan dan Hari Pembalasan hendaknya mengucapkan kata-kata baik lagi berfaedah atau ia hendaknya tutup mulut saja” (Muslim).
PERLAKUAN TERHADAP SANAK-SAUDARA
Kebanyakan orang mengalami kegagalan bahwa jika mereka menikah dan mendirikan rumah tangga sendiri, mereka berangsur mengabaikan orang tua. Oleh karena itu Rasulullah saw. sangat menekankan ihwal pahala berbakti dan mengkhidmati orang tua serta memperlakukan mereka dengan baik lagi kasih sayang. Abu Hurairah meriwayatkan, “Seorang laki-laki datang menghadap kepada Rasulullah saw. dan menanyakan siapakah yang paling berhak atas perlakuan baik dari dia. Rasulullah saw. menjawab: ‘Ibumu.’ Orang itu menanyakan lagi. ‘Dan sesudah itu?’ Rasulullah saw. mengulangi lagi, ‘Ibumu.’ Orang itu bertanya untuk ketiga kalinya, ‘Dan sesudah ibuku?’ dan Rasulullah saw. menjawab lagi, ‘Masih ibumu juga’ dan ketika orang itu bertanya untuk ke empat kalinya, beliau bersabda, ‘Sesudah ibumu bapakmu dan sesudah dia keluarga terdekat dan sesudah itu keluarga yang lebih jauh.”
Orang tua dan kakek Rasulullah saw. meninggal dunia ketika beliau masih kecil. Tetapi beberapa orang tua istri-istri beliau masih hidup dan beliau senantiasa memperlakukan mereka dengan kasih-sayang dan takzim. Pada peristiwa jatuhnya Mekkah, ketika Rasulullah saw. memasuki kota sebagai panglima yang gagah perkasa, Abu Bakar membawa ayahnya menghadap. Beliau bersabda kepada Abu Bakar, “Mengapa Anda menyusahkan ayah Anda untuk datang kepadaku. Aku sendiri akan merasa berbahagia menghadap kepada beliau” (Halbiyya, Jilid 3 hlm.99). Salah satu sabda Rasulullah saw. ialah, “Malang benar orang yang orang tuanya mencapai usia lanjut tapi ia gagal meraih surga juga,” artinya, mengkhidmati orang tua, terutama saat mereka mencapai usia lanjut, menarik rida dan karunia Ilahi dan oleh karena itu seseorang yang terbuka kepadanya kesempatan mengkhidmati orang tuanya yang lanjut usia dan berusaha menggunakan kesempatan itu sepenuhnya, pasti akan menjadi kuat dalam jalan takwa dan menjadi penerima karunia Ilahi.
Seorang orang pada suatu ketika mengeluh kepada Rasulullah saw. bahwa makin baik ia berbuat baik kepada sanak-saudaranya, makin tidak bersahabat pula mereka terhadap dirinya, dan makin mereka diperlakukan dengan kasih sayang, makin mereka aniaya terhadap dirinya, dan makin ia memperlihatkan cinta kepada mereka, makin benci juga mereka terhadap dia. Rasulullah saw. bersabda, “Jika apa yang kau katakan itu benar maka kamu sangat beruntung, sebab kamu senantiasa akan menjadi orang yang menerima perlindungan dan pertolongan Ilahi” (Muslim, Kitab al-Birr wal Sila).
Pada suatu waktu ketika Rasulullah saw. sedang menasihati orang-orang agar memberi sedekah, seorang dari pada sahabat, Abu Talha Ansari, menghadap kepada beliau dan menyerahkan sebuah kebun guna dipergunakan untuk tujuan menolong orang-orang miskin. Rasulullah saw. sangat gembira dan berseru, “Alangkah bagusnya sedekah ini! Alangkah bagusnya sedekah ini!” dan menambahkan, “Setelah menyerahkan kebun itu untuk mengkhidmati orang-orang miskin, aku minta kamu sekarang membagi-bagikannya diantara sanak saudaramu yang miskin.” (Bukhari, Kitab al-Tafsir).
Pada suatu waktu seseorang datang menghadap kepada beliau dan berkata, “Ya Rasulullah, aku bersedia berjanji akan berhijrah dan aku bersedia janji akan ikut berjihad, sebab aku sangat menghendaki rida Ilahi.” Rasulullah saw. bertanya, apakah salah seorang dari orang tuanya masih hidup dan orang itu menjawab bahwa kedua-duanya masih hidup. Maka beliau bertanya, “Apakah kamu sungguh-sungguh ingin mendapatkan rida Ilahi?” Dan, atas jawaban orang itu bahwa ia sungguh-sungguh mendambakan hal itu, Rasulullah saw. bersabda, “Kembalilah kepada orang tuamu dan khidmatilah mereka, dan khidmati mereka dengan sungguh-sungguh.” Beliau menegaskan bahwa sanak-saudara seseorang yang belum masuk Islam sama-sama berhak atas perlakuan baik dan kasih-sayang seperti halnya sanak-saudaranya yang sudah menjadi muslim. Salah seorang dari istri-istri Abu Bakar yang bukan muslim mengunjungi anaknya, Asma dan anaknya itu bertanya kepada Rasulullah saw., apakah boleh ia mengkhidmati ibunya dan memberi hadiah kepadanya; dijawab oleh Rasulullah saw. “Tentu saja, sebab ia ibumu” (Bukhari, Kitab al-Adab).
Beliau tidak saja memperlakukan sanak-saudara yang dekat dengan kasih sayang, bahkan kerabat yang sudah jauh pun dan siapa pun yang mempunyai pertalian dengan mereka diberi perlakuan sangat baik. Bilamana beliau menyembelih korban seekor ternak, beliau biasa mengirimkan sebagian dagingnya kepada sahabat-sahabat Khadijah (istri beliau yang telah wafat) dan berpesan kepada istri-istri beliau agar tidak melupakan mereka dalam peristiwa-peristiwa semacam itu. Beberapa tahun sesudah wafat Khadijah ra. ketika beliau bercengkerama dengan para sahabat, saudara perempuan Khadijah, Halah, datang berkunjung dan meminta izin masuk. Suaranya sampai ke telinga Rasulullah saw. layaknya seperti suara Khadijah ra. dan ketika beliau mendengar beliau bersabda, “Ya Allah, itulah Halah, saudara Khadijah.” Sesungguhnya cinta yang sejati senantiasa menjelmakan diri demikian bahwa seseorang mencintai juga segala sesuatu yang ada pertaliannya dengan orang yang dicintai dan dihormati.
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa dalam suatu perjalanan, tahu-tahu ia sudah ada bersama-sama dengan Jarir bin Abdullah dan dirasakan olehnya bahwa kawannya ini menjaga dia seperti seorang budak menjaga tuannya. Karena Jarir bin Abdullah lebih tua daripada Anas, Anas menjadi malu dan menegurnya supaya Jarir tidak bersusah payah. Jarir menjawab, “Aku biasa melihat bagaimana patuh dan rajinnya kaum Ansar melayani Rasulullah saw. dan karena sangat terkesan oleh bakti dan cinta mereka terhadap Rasulullah saw. aku telah mengambil keputusan dalam diriku sendiri bahwa bilamana aku kebetulan ada bersama-sama seorang Ansar, aku akan melayani sebagai pelayannya. Oleh karena itu, aku hanya melaksanakan keputusanku sendiri dan Anda tidak usah melarang” (Muslim). Peristiwa itu menandakan bahwa kalau seseorang benar-benar mencintai orang lain, cintanya meliputi juga mereka yang sungguh-sungguh mengkhidmati sesuatu yang disayang orang itu. Begitu juga mereka yang benar-benar mencintai orang tua senantiasa menunjukkan hormat dan perhatian penuh terhdap mereka yang sedikit banyak ada hubungan dengan orang tua mereka dalam bentuk ikatan kasih-sayang atau kekeluargaan. Pada suatu peristiwa Rasulullah saw. menekankan bahwa menghormati sahabat-sahabat ayah merupakan kebajikan yang utama. Di antara orang-orang yang mendengar, terdapat Abdullah bin Umar. Beberapa tahun kemudian, pada masa ibadah Haj, ia berjumpa dengan seorang Bedui dan Abdullah bin Umar menyerahkan keledainya sendiri kepadanya dan juga memberikan serbannya. Seorang dari antara kawannya mengatakan bahwa Abdullah bin Umar terlalu royal, padahal seorang Bedui akan gembira dan puas dengan pemberian sekedarnya. Abdullah bin Umar berkata, “Ayah orang itu adalah sahabat ayahku dan aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda bahwa suatu amal utama seseorang yang saleh ialah menghormati dan memuliakan sahabat ayahnya.”
PERGAULAN BAIK
Beliau selamanya memilih pergaulan dengan orang-orang baik dan jika beliau melihat suatu kelemahan pada salah seorang dari para sahabat, beliau menegurnya dengan ramah secara berempat mata. Abu Musa Asy’ari meriwayatkan, “Rasulullah saw. menggambarkan faedah yang dapat diraih dari teman-teman yang baik dan kawan yang saleh, dan kerugian yang dapat diterima dari sahabat-sahabat yang rawan susila dan kawan-kawan yang buruk dengan mengatakan, ‘Seorang yang mengadakan pergaulan dengan orang-orang saleh adalah serupa orang yang membawa kesturi. Jika ia mempergunakannya ia mendapat faedah, jika menjualnya ia mendapat laba dan jika ia hanya menyimpannya pun akan menikmati kaharuman. Seseorang yang bergaul dengan orang rawan susila adalah serupa dengan orang yang meniup ke dalam tungku arang, apa yang dapat diharapkan daripada dia hanya bunga api yang dapat hinggap di pakaiannya dan membakarnya atau asap yang keluar dari tungku itu akan memusingkan kepalanya.” Beliau biasa mengatakan bahwa watak seseorang dibentuk serupa dengan sifat pergaulannya dan bahwa oleh karena itu seseorang hendaknya berhati-hati dan mempergunakan waktunya bergaul dengan orang-orang baik (Bukhari dan Muslim).
MENJAGA KEPERCAYAAN ORANG
Rasulullah saw. sangat berhati-hati membawa diri agar tidak timbul kemungkinan adanya salah paham. Pada suatu peristiwa istri beliau, Safiyah, datang menjumpai beliau di mesjid. Ketika waktu untuk pulang tiba, hari sudah menjadi gelap dan Rasulullah saw. mengambil keputusan untuk mengantarkannya pulang. Dijalan beliau berpapasan dengan dua orang dan karena hendak menghindarkan suatu persangkaan dari mereka terhadap orang yang bersama-sama dengan beliau, Rasulullah saw. menyuruh mereka berhenti, “Lihatlah, ini istriku, Safiyah.” Mereka memprotes, “Ya Rasulullah, mengapa Anda menyangka kami akan salah paham mengenai Anda?” Rasulullah saw. menjawab, “Setan sering menjalar melalui darah manusia. Aku khawatir kepercayaanmu ditularinya.” (Bukhari, Abwab al-I’tikaf).
MENUTUPI KESALAHAN ORANG LAIN
Beliau tidak pernah mengemukakan kesalahan-kesalahan dan kelemahan-kelemahan orang lain dan menasihati orang-orang jangan mengumumkan kesalahan-kesalahan sendiri. Beliau biasa bersabda, “Jika seseorang menutupi kesalahan-kesalahan orang lain, Tuhan akan menutupi kesalahan-kesalahannya pada Hari Pembalasan.” Dan, “Tiap-tiap pengikutku dapat lepas dari akibat-akibat kesalahannya (artinya, dengan bertobat sungguh-sungguh dan membenahi diri), kecuali mereka yang menyebar-nyebar kesalahannya sendiri,” dan melukiskannya dengan perkataan. “Seseorang berbuat kejahatan di waktu malam dan membanggakan di hadapan mereka.” Aku mengerjakan ini tadi makam,’ jadi ia sendiri telah membukakan apa yang Tuhan telah menutupinya” (Bukhari dan Muslim).
Ada sementara orang menyangka, karena kebodohannya, bahwa pengakuan dosa membantu tobat; kenyataannya ialah hal itu bahkan memelihara ketidaksenonohan. Dosa itu kejahatan dan barang siapa terjerumus ke dalamnya dan menjadi mangsa rasa malu, rasa penyesalan dapat membuka pintu harapan untuk kembali ke jalan yang suci dan ketakwaan dengan tobat. Keadaannya adalah seperti orang yang telah digoda oleh kejahatan, tetapi selalu dikejar-kejar oleh kesadaran bertakwa, dan begitu kesempatan ada, maka lenyaplah kejahatan itu dan orang berdosa itu diimbau kembali oleh ketakwaan. Tetapi orang yang menyebar-nyebarkan perbuatan dosanya dan membanggakan perbuatan itu, ia kehilangan segala rasa malu dan kehilangan pengertian akan baik dan buruk, lalu menjadi tidak mampu untuk bertobat.
Sekali peristiwa seseorang datang menghadap Rasulullah saw. dan berkata, “Aku berdosa telah berbuat zina.” (Jika kesalahan itu dibuktikan oleh kesaksian maka merupakan pelanggaran yang dapat dikenakan hukuman menurut syariat Islam). Mendengar pengakuan orang itu, Rasulullah saw. berpaling dan menekuni kesibukan lain. Beliau bermaksud menyatakan bahwa obat yang tepat ialah tobat dan bukan pengakuan di muka umum. Tetapi, orang itu tidak mengerti dan menyangka bahwa Rasulullah saw. tidak mendengarnya, lalu pindah ke hadapan Rasulullah saw. dan mengulangi pengakuannya. Rasulullah saw. membalikkan badan lagi dan membelakanginya tetapi orang itu pindah lagi ke hadapan Rasulullah saw. dan mengulang lagi pengakuannya. Ketika ia telah berbuat serupa empat kali, Rasulullah saw. bersabda, “Aku tadinya mengharap orang ini tidak mengatakan dosanya sebelum Tuhan menunjukkan kehendak-Nya tentang dia, tetapi karena ia telah empat kali mengakui dosanya, aku sekarang terpaksa mengambil tindakan” (Tirmidhi). Kemudian beliau menambahkan, “Orang ini telah mengaku dan belum ada tuduhan dari wanita yang terlibat dalam pengakuannya. Wanita itu harus diperiksa dan jika ia menolak dosanya, wanita itu tidak boleh disiksa dan hanya laki-laki ini harus mendapat hukuman sesuai dengan pengakuannya, tetapi jika wanita itu juga mengaku, ia harus mendapat hukuman juga.” Memang menjadi kebiasaan Rasulullah saw. untuk mengikuti syariat Torat dalam hal-hal yang Alquran bungkam mengenainya, dan karena Torat menetapkan bahwa seorang pezina harus dirajam, beliau memutuskan terhadap orang itu sesuai dengan peraturan itu. Ketika hukuman itu akan dilaksanakan, orang itu berusaha melarikan diri, tetapi orang-orang mengejarnya dan hukuman itu dilakukan. Ketika Rasulullah saw. mendengar hal itu beliau tidak menyetujuinya. Beliau mengatakan bahwa orang itu telah dijatuhi hukuman berdasarkan pengakuannya sendiri. Percobaan melarikan diri adalah usaha membatalkan pengakuannya dan kemudian ia tidak boleh di hukum hanya atas alasan pengakuannya semata.
Rasulullah saw. menetapkan bahwa hukum hanya berlaku atas perbuatan yang dilakukan secara terang-terangan. Dalam suatu peperangan, serombongan Muslim menjumpai seorang bukan Muslim yang biasa bersembunyi menunggu di tempat yang sunyi dan jika ia melihat seorang Muslim seorang diri ia menyerang, dan membunuhnya. Pada peristiwa itu Usama bin Zaid mengejarnya, dan setelah menyusul dan menangkapnya, Zaid menghunus pedang untuk membunuhnya. Ketika orang itu melihat bahwa tidak ada jalan melarikan diri, ia mengucapkan bagian pertama Kalimah Syahadat, ialah, “Asyhadu alla ilaha illallah” – “Tidak ada Zat yang patut disembah kecuali Allah”, dengan demikian menunjukkan bahwa ia telah menerima Islam. Usama tak menghiraukan dan membunuhnya. Ketika peristiwa itu, di antara sekian banyak peristiwa lain dalam pertempuran itu, diceritakan kepada Rasulullah saw., beliau memanggil Usama dan menanyakan hal itu. Atas pengakuan mengenai kebenaran cerita itu Rasulullah saw. bersabda, “Bagaimana halmu pada Hari Pembalasan jika pernyataan imannya membenarkan dia? Usama menjawab, “Ya Rasulullah, orang itu membunuh orang-orang Muslim dan syahadatnya hanya tipu muslihat belaka untuk melepaskan diri dari pembalasan.” Tetapi Rasulullah saw. mengulangi lagi. “Usama, bagaimana hal kamu jika syahadat orang itu menjadi saksi terhadapmu pada Hari Pembalasan?” Artinya, Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban dari Usama atas kematian orang itu, sebab walaupun ia telah berdosa membunuh orang-orang Muslim, pembacaan syahadatnya adalah bukti bahwa ia telah betobat dari kejahatan-kejahatannya. Usaha menyangkal dan mengatakan bahwa pembacaan Kalimah Syahadat itu hanya karena ia takut mati dan bukan ciri bertobat. Atas itu Rasulullah saw. bersabda, “Adakah kamu melihat ke dalam hatinya untuk mengetahui bahwa apa ia berkata benar atau tidak,” dan melanjutkan, “Bagaimana kamu akan menjawab pada Hari Pembalasan, jika syahadatnya dibacakan sebagai bukti terhadap kamu?” Usama berkata, “Mendengar Rasulullah begitu sering mengatakan hal itu aku berharap bahwa aku masuk Islam baru sesudah saat itu sehingga aku tidak berdosa atas apa-apa yang dituduhkan terhadapku” (Muslim Kitab al-Iman).
Rasulullah saw. selamanya bersedia memaafkan orang-orang dari kesalahan dan pelanggaran mereka. Seorang dari antara mereka yang terlibat dalam fitnah terhadap istri beliau, Aisyah, adalah orang yang hidupnya bergantung pada kebajikan Abu Bakar (bapak Aisyah). Ketika kepalsuan tuduhan terhadap Aisyah telah terbukti dengan sejelas-jelasnya, Abu Bakar menghentikan bantuannya kepada orang itu. Hal ini pun menjadi bukti kesabaran dan ketabahan hati Abu Bakar yang terpuji. Orang kebanyakan akan menuntut sampai sejauh-jauhnya terhadap seorang-orang bawahannya yang telah berdosa menghina anak perempuannya. Ketika Rasulullah saw. mengetahui tindakan Abu Bakar itu beliau berbicara dengan Abu Bakar dan menjelaskan bahwa walau pun orang itu bersalah, adalah tidak pantas orang seperti Abu Bakar mencabut sumber penghidupannya karena kesalahannya itu. Atas nasihat itu, Abu Bakar meneruskan lagi bantuannya terhadap orang itu (Bukhari, Kitab al-Tafsir).
KESABARAN DALAM KESUSAHAN
Rasulullah saw. biasa bersabda, “Untuk seorang Muslim, kehidupan ini sarat dengan kebaikan dan tidak ada orang lain kecuali orang beriman merasakan dirinya dalam keadaan ini sebab jika ia berjumpa dengan kesenangan, ia bersyukur kepada Tuhan dan menjadi orang yang menerima lebih banyak rahmat dan berkat dari Dia. Sebaliknya, jika ia menderita kesusahan atau kemalangan, dipikulnya penderitaan dengan sabar dan dengan demikian, lagi-lagi ia menjadi orang yang meraih rahmat dan berkat Ilahi.”
Ketika wafat beliau telah mendekat dan beliau dalam puncak penderitaan, merintih-rintih, anak beliau Fatimah, menjerit karena tidak tahan melihat ayahanda dalam keadaan demikian. Beliau bersabda, “Bersabarlah, ayahmu tidak akan menderita lagi sesudah hari ini,” artinya, segala kesusahan hanya terbatas sampai di dunia ini dan dari saat beliau bebas dari kehidupan ini dan sampai di hadirat Al-Khalik, beliau tidak akan lagi menderita. Pada waktu wabah tengah berkecamuk, beliau tidak membenarkan orang-orang meninggalkan kota yang sedang dijangkiti, lalu masuk ke kota lain, sebab hal demikian akan memperluas daerah penularan wabah. Beliau biasa mengatakan bahwa pada waktu wabah berkecamuk, jika seseorang tinggal tetap di dalam kotanya sendiri dan mencegah penularan ke daerah yang belum terjangkiti lalu ia mati karena wabah itu, ia akan dimasukkan ke dalam golongan syuhada (Bukhari, Kitab-al Tibb).
BEKERJASAMA
Beliau senantiasa mengajarkan bahwa salah satu ciri-ciri khas Islam yang terbaik ialah, orang hendaknya jangan mencampuri urusan yang tidak ada kaitan dengan dirinya dan jangan mengecam atau mencela orang lain dan mencampuri perkara-perkara yang tidak bertalian dengan dirinya. Itulah dasar yang jika dipakai dan dilaksanakan akan menjamin keamanan dan ketertiban di dunia. Sebagian besar kesukaran yang kita alami adalah bersumber pada kecenderungan mayoritas masyarakat menuruti hati untuk ikut campur yang tidak pada tempatnya, dan enggan memberikan kerjasama saat diperlukan dalam upaya mengurangi penderitaan orang-orang yang ada dalam kesusahan.
Rasulullah saw. sangat menekankan pada kerjasama. Beliau menjadikan kaidah bahwa jika seseorang dituntut membayar sejumlah uang sebagai hukuman dan ia tidak mampu membayar sepenuhnya, maka tetangga-tetangga atau kawan sebangsanya atau kawan sekutunya hendaknya mengumpulkan uang dengan menarik iuran. Orang-orang kadang-kadang datang dan bermukim dekat Rasulullah saw. dan menyisihkan waktu untuk mengkhidmati Islam dengan bermacam-macam cara. Beliau selalu menasihati sanak-saudara mereka guna memikul kewajiban memenuhi kebutuhan mereka yang paling sederhana. Diriwayatkan oleh Anas bahwa sekali peristiwa dua orang bersaudara menerima Islam dan seorang diantaranya tinggal terus bersama Rasulullah saw. sedang yang seorang lagi meneruskan usaha seperti sediakala. Lama sesudah itu saudara yang disebut terakhir itu mengadu kepada Rasulullah saw. bahwa saudaranya telah mempergunakan waktunya bermalas-malasan. Rasulullah saw. bersabda, “Tuhan telah mencukupi kebutuhanmu juga berkat adanya saudaramu, dan karena itu menjadi kewajibanmu mencukupi kebutuhannya dan membiarkan dia bebas mengkhidmati agama” (Tirmidhi).
Dalam perjalanan, ketika rombongan Rasulullah saw. sampai ke tempat berkemah, para sahabat segera sibuk dengan tugas masing-masing mendirikan kemah untuk bermalam; Rasulullah saw. bersabda, “Kamu tidak menugasiku suatu tugas. Aku akan pergi mengumpulkan bahan bakar untuk masak.” Para sahabat berkeberatan dan berkata, “Ya Rasulullah! Mengapa Anda harus repot-repot, jika kami semua siap mengerjakan segala sesuatu yang perlu?” Beliau bersabda, “Tidak. Menjadi kewajibanku mengerjakan bagianku apa saja yang harus dikerjakan,” – dan beliau mengumpulkan kayu bakar dari hutan untuk memasak makanan (Zurqani, Jilid 4 hlm.306).
JUJUR
Seperti telah diriwayatkan, Rasulullah saw. sendiri begitu tegar dalam soal kejujuran sehingga beliau terkenal di antara kaum beliau sebagai “Orang Terpercaya” dan “Orang Besar”. Begitu pula beliau sangat berhasrat agar orang-orang muslim menjunjung tinggi nilai kebenaran seperti beliau sendiri menjunjungnya. Beliau memandang kebenaran sebagai dasar segala keluhuran budi, kebaikan, dan perilaku yang benar. Beliau mengajarkan bahwa seseorang yang mutaki adalah orang yang teguh memegang kebenaran sehingga ia terhitung bertakwa oleh Tuhan.
Pada suatu ketika seorang tawanan yang sudah banyak berdosa membunuh orang-orang muslim dibawa ke hadapan Rasulullah saw.. Umar yang juga hadir percaya bahwa orang ini pantas sekali dihukum mati dan memandang berkali-kali kepada Rasulullah saw. mengharapkan bahwa Rasulullah saw. pada suatu saat akan mengisyaratkan supaya orang itu dihukum mati. Setelah Rasulullah saw. menyuruh pergi orang itu, Umar menyatakan bahwa orang itu harus dihukum mati, karena hanya itulah hukuman yang setimpal. Rasulullah saw. menjawab, “Jika demikian mengapa ia tidak kau bunuh?” Umar menjawab, “Ya Rasulullah! Jika Anda memberi isyarat, sekalipun hanya dengan kedipan mata, tentu aku akan melaksanakannya.” Atas itu Rasulullah saw. menambahkan, “Seorang nabi tidak bertindak dengan mendua perasaan. Betapa aku dapat memakai mataku untuk memberi isyarat menjatuhkan hukuman mati kepada orang itu, sementara lidahku sedang dipakai berbicara dengan ramah kepadanya (Hisyam, jilid 2, hlm.217).
Pada suatu waktu seorang orang menghadap Rasulullah saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, aku mempunyai tiga kejahatan, dusta, kecanduan minum minuman keras dam zina. Aku telah berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari kejahatan-kejahatan itu, tetapi tidak berhasil. Dapatkah Anda mengatakan apa yang harus kuperbuat?” Rasulullah saw. menjawab, “Jika kamu mau berjanji sungguh-sungguh kepadaku untuk melepaskan satu dari antaranya, aku jamin kamu akan terlepas dari kedua kejahatan lainnya.” Orang itu berjanji dan meminta kepada Rasulullah saw. untuk diberi tahu, dosa yang mana dari ketiga macam dosa itu yang harus ditinggalkan. Rasulullah saw. bersabda, “Tinggalkanlah dusta.” Beberapa waktu kemudian orang itu kembali dan mengatakan kepada Rasulullah saw. bahwa sesudah mengikuti nasihat beliau, ia sekarang bebas dari ketiga-tiga dosa itu. Rasulullah saw. bertanya kepadanya bagaimana perjuangannya mengatasi kelemahannya, dan orang itu pun berkata, “Pada suatu hari aku ingin minum arak dan hampir-hampir aku berbuat, ketika itu aku teringat akan janjiku kepada Anda dan menyadari bahwa jika salah seorang dari sahabat-sahabatku menanyakan apakah aku telah minum arak, aku akan terpaksa mengakuinya, karena aku tidak mungkin lagi mengucapkan sesuatu yang dusta. Hal itu berarti bahwa aku akan mendapat nama buruk di tengah sahabat-sahabatku dan mereka akan menjauhiku di kemudian hari. Dengan pikiran demikian kubujuk diriku untuk meninggalkan minum sampai kesempatan lain, dan aku dapat menahan keinginan pada waktu itu. Demikian pula pada waktu aku cenderung berbuat zina, aku berdebat dengan diriku sendiri bahwa mengikuti hati untuk melakukan kejahatan akan menjadikanku kehilangan penghargaan sahabat-sahabatku karena aku tidak mungkin berkata dusta jika ditanya oleh mereka dan dengan demikian membatalkan janjiku kepada Anda atau aku harus mengakui dosaku. Demikian pula aku terus berjuang antara tekad menyempurnakan janjiku kepada Anda dan keinginan nafsuku minum minuman keras dan berzina. Ketika beberapa waktu telah lewat, aku mulai terlepas dari mengikuti hawa nafsu dalam dosa itu dan bertekad untuk menjauhkan diri dari berdusta itu sekarang telah membebaskanku dari kedua kejahatan lainnya juga.”
PRASANGKA BAIK
Rasulullah saw. senantiasa memperingatkan orang-orang terhadap ingin tahu yang tidak pada tempatnya dan supaya mempunyai sangka baik terhadap orang-orang lain. Abu Hurairah meriwayatkan: “Rasulullah saw. bersabda, ‘Selamatkan dirimu dari buruk-sangka terhadap orang-orang lain, sebab hal itu adalah kepalsuan terbesar dan janganlah ingin tahu yang tidak pada tempatnya atau memberi nama-nama cemoohan terhadap satu sama lain untuk menghina atau iri-hati terhadap satu sama lain, dan jangan memelihara perasaan-perasaan buruk terhadap orang lain; hendaknya tiap-tiap orang di antara kamu memandang diri sebagai hamba Tuhan dan memperlakukan orang-orang lain sebagai saudara sebagaimana telah diperintahkan oleh Allah.’ dan pula, ‘Ingatlah bahwa seorang muslim itu saudara bagi tiap orang muslim. Tidak boleh seorang muslim melanggar hak orang muslim lainnya atau menjauhi orang lain dalam masa-masa kesusahan atau menghina orang lain hanya karena tak punya barang atau ilmu atau hal apa saja yang lainnya. Kesucian adalah bersumber pada hati dan cukup mengotori hati seseorang kalau memandang hina saudaranya. Tiap-tiap muslim harus memandang jiwa, kehormatan dan milik orang muslim lainnya sebagai sesuatu yang suci dan tak boleh diganggu. Tuhan tidak memandang jasmanimu atau wajahmu atau perbuatan-perbuatan lahirmu, tetapi memandang dan melihat ke dalam hatimu” (Muslim, Kitab al-Birr wal-Sila).
JUAL BELI SECARA TERUS TERANG
Beliau sangat mendambakan orang-orang muslim agar jangan mengikuti hati dalam melakukan segala bentuk kelicikan dalam transaksi atau jual-beli. Pada suatu waktu ketika beliau sedang lewat di pasar, beliau melihat setimbun gandum yang sedang di lelang. Beliau memasukkan tangan beliau ke dalam timbunan itu dan didapati bahwa walaupun lapisan luarnya kering, lapisan dalamnya basah. Beliau menanyakan kepada pemiliknya akan sebab-sebabnya. Orang itu menerangkan bahwa hujan yang turun tiba-tiba telah menjadikannya basah. Rasulullah saw. bersabda bahwa jika demikian ia hendaknya membiarkan lapisan yang basah gandum itu tetap ada dibagian luar sehingga para calon pembeli dapat menilai keadaan yang sebenarnya. Beliau bersabda, “Orang yang berdagang secara tidak jujur terhadap orang lain tidak akan menjadi anggota masyarakat yang berguna” (Muslim). Mengenai perdagangan beliau menuntut supaya sama sekali bebas dari tiap-tiap kecurigaan terhadap perbuatan serong. Beliau memperingatkan kepada tiap-tiap pembeli agar senantiasa memeriksa barang-barang yang akan mereka beli dan melarang siapa pun mengadakan rebut-tawar padahal tawar-menawar dengan pihak lain masih belum selesai. Beliau melarang juga menimbun barang dagangan untuk menaikkan harga pasar dan menuntut agar pasar senantiasa mendapat persediaan secara teratur.
OPTIMIS
Beliau adalah musuh pesimisme atau keputusasaan. Beliau senantiasa bersabda bahwa barang siapa menyebarkan rasa pesimis dikalangan anggota-anggota masyarakat, ia bertanggung jawab atas kemunduran bangsa, sebab pikiran-pikiran pesimis mempunyai kecenderungan mengecutkan hati dan menghentikan laju kemajuan (Muslim, Bagian II, Jilid 2). Beliau memberi peringatan kepada kaum beliau terhadap kesombongan dan kecongkakan pada satu pihak dan terhadap pesimis di pihak lain. Beliau memperingatkan mereka supaya menempuh jalan tengah antara kedua ekstrim itu. Orang-orang muslim harus bekerja rajin dan tekun dengan kepercayaan bahwa Tuhan akan memberkati daya-upaya mereka dengan hasil yang sebaik-baiknya. Tiap-tiap orang harus berikhtiar untuk maju dan harus berusaha memajukan kesejahteraan dan meningkatkan kemajuan masyarakat, tetapi tiap-tiap orang hendaknya bebas dari perasaan sombong atau tiap-tiap kecenderungan kepada kecongkakan.
KASIH SAYANG TERHADAP HEWAN-HEWAN
Beliau memperingatkan kaum beliau terhadap kekejaman terhadap hewan dan memperingatkan agar memperlakukan hewan-hewan dengan baik. Beliau seringkali menceritakan contoh mengenai seorang wanita Yahudi yang dihukum oleh Allah Taala karena membiarkan kucingnya mati kelaparan. Juga beliau sering menceritakan ihwal seorang wanita yang melihat anjing kehausan dekat sebuah perigi yang dalam. Ia menanggalkan sepatunya dan dipakainya untuk mengambil air. Air itu diberikan kepada anjing yang kehausan itu. Amal saleh itu menarik pengampunan Ilahi atas semua dosa yang dilakukannya di masa lampau.
Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan: “Tengah kami berada dalam perjalanan bersama Rasulullah saw., kami melihat dua ekor anak merpati dalam sarang dan kami menangkap dua ekor burung itu. Kedua burung itu masih kecil. Ketika induknya datang kesarangnya dan tidak didapatinya anak-anaknya, ia terbang kian-kemari dengan sangat gelisah. Ketika Rasulullah saw. datang ke tempat itu, beliau melihat merpati itu dan bersabda, “Jika salah seorang dari antara kamu telah menangkap anak-anaknya, ia harus segera melepaskannya biar si induk jadi tenang” (Abu Daud). Abdullah bin Mas’ud menceritakan juga bahwa sekali peristiwa mereka melihat sebuah sarang semut dan setelah mengumpulkan daun-daun kering di atasnya, daun-daun itu dibakarnya. Atas perbuatan itu mereka disesali oleh Rasulullah saw. Sekali peristiwa Rasulullah saw. melihat seekor keledai yang sedang dicap bakar di mukanya. Beliau menanyakan bahwa orang-orang Romawi berbuat serupa itu untuk menandai dan mengenal binatang-binatang trah mereka. Rasulullah saw. bersabda bahwa karena muka itu bagian badan yang sangat peka, maka binatang itu tidak boleh diberi cap bakar di mukanya dan jika pun hal itu perlu dilakukan, membakarnya harus pada pahanya saja (Abu daud dan Tirmidhi). Sejak itu kaum Muslim senantiasa menandai binatang-binatangnya pada pahanya dan dengan meniru perbuatan Muslim itu orang-orang Eropa juga berbuat demikian.
TOLERANSI DALAM URUSAN AGAMA
Rasulullah saw. bukan saja menekankan pada kebaikan toleransi dalam urusan agama, tetapi memberikan contoh-contoh yang sangat tinggi dalam urusan ini. Suatu perutusan suku Kristen dari Najran menghadap kepada beliau di Medinah untuk bertukar pikiran mengenai masalah-masalah keagamaan. Di dalam rombongan itu terdapat tokoh-tokoh gereja. Percakapan diadakan di dalam mesjid dan berjalan selama beberapa jam. Pada suatu saat perutusan itu minta izin meninggalkan mesjid dan mengadakan upacara kebaktian di suatu tempat yang tenang. Rasulullah saw. bersabda bahwa mereka tidak perlu meninggalkan mesjid yang memang merupakan tempat khusus untuk kebaktian kepada Tuhan dan mereka dapat melakukan ibadah mereka di situ (Zurqani).
KEBERANIAN
Beberapa contoh mengenai keberanian dan kewiraan beliau telah diceritakan dalam bagian riwayat hidup beliau. Cukuplah kiranya di sini mengemukakan sebuah contoh. Pada suatu ketika, di Medinah tersebar desas-desus bahwa orang-orang Romawi sedang menyiapkan kesatuan laskar yang besar untuk mengadakan pendudukan. Pada masa itu orang-orang Muslim selalu berjaga-jaga malam. Pada suatu malam suara gaduh datang dari arah padang pasir. Orang-orang Muslim berlari-lari keluar rumah mereka dan beberapa dari antara mereka berkumpul di mesjid dan menunggu kedatangan Rasulullah saw. untuk mendapat perintah menghadapi segala kemungkinan. Segera mereka melihat Rasulullah saw. datang berkuda, kembali dari arah suara-suara itu. Kemudian mereka mengetahui bahwa pada saat awal sekali suara tanda bahaya terdengar, Rasulullah saw. telah menaiki kuda dan menuju arah datangnya suara itu untuk menyelidiki apa ada alasan kekhawatiran itu. Beliau tidak menunggu orang-orang berkumpul untuk dapat berangkat bersama-sama. Ketika beliau kembali, beliau menjelaskan kepada para sahabat bahwa tidak ada alasan untuk khawatir dan bahwa mereka dapat pulang kerumah masing-masing dan tidur lagi (Bukhari, Bab Syuja’ah fil Harb).
TENGGANG RASA TERHADAP ORANG YANG KURANG SOPAN
Beliau sangat lunak terhadap mereka yang karena tidak punya ajaran sopan-santun maka tidak mengetahui bagaimana seyogyanya membawakan diri. Pada sekali peristiwa seorang Bedui yang baru saja masuk Islam dan sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw. di mesjid bangkit, berjalan beberapa langkah, berjongkok di sudut mesjid lalu membuang air seni. Beberapa sahabat bangkit hendak melarangnya. Rasulullah saw. menahan mereka dan menjelaskan bahwa kalau itu diganggu maka dapat menjadikan orang itu malu dan boleh jadi akan memudaratkannya. Beliau mengatakan kepada para sahabat untuk membiarkannya dan membersihkan tempat itu kemudian.
MENYEMPURNAKAN PERJANJIAN
Rasulullah saw. sangat menaruh penting ihwal asas menyempurnakan perjanjian. Sekali peristiwa seorang duta datang kepada beliau dengan tugas istimewa dan sesudah ia tinggal beberapa hari bersama beliau, ia yakin akan kebenaran Islam dan mohon diperbolehkan baiat, masuk Islam. Rasulullah saw. mengatakan bahwa perbuatannya tidak tepat karena ia datang sebagai duta dan telah menjadi kewajibannya untuk pulang ke pusat pemerintahannya tanpa mengadakan hubungan baru. Jika sesudah pulang ia masih yakin akan kebenaran Islam, ia dapat kembali lagi sebagai orang bebas dan masuk Islam (Abu Daud, bab tentang Wafa bil-Ahd).
PENGHARGAAN TERHADAP ABDI-ABDI PERI KEMANUSIAAN
Beliau sangat menghargai mereka yang membaktikan waktunya dan harta bendanya untuk mengkhidmati umat manusia. Suku Arab, Banu Tai’, mulai mengadakan permusuhan terhadap Rasulullah saw. dan kekuatan mereka dikalahkan dan beberapa orang ditawan dalam sebuah peperangan. Seorang dari tawanan itu adalah anak perempuan Hatim Ta’i seorang yang kemurahan dan kebaikannya telah menjadi buah bibir bangsa Arab. Ketika anak Hatim menerangkan kepada Rasulullah saw. mengenai silsilah kekeluargaannya, beliau memperlakukan wanita itu dengan penghormatan yang besar dan sebagai hasil dari perantaraannya beliau membatalkan semua hukuman yang tadinya akan dijatuhkan atas wanita itu sebagai tindak balasan terhadap serangan mereka (Halbiyya, Jilid 3, hlm. 227).
Watak Rasulullah saw. itu begitu beraneka segi sehingga tidak mungkin menceritakan secara rinci dalam beberapa halaman. Oleh sebab buku ini tidak bertujuan semata-mata membahas peri watak beliau, dan mengingat akan keterbatasan ruang dalam buku ini, kami tidak mempunyai pilihan lain kecuali membatasi uraian ini hanya sampai disini.
-------------------------------------
Kutipan dari Buku: Pengantar Mempelajari Alquran
|
Semoga kita dapat mengamalkan apa yang diamalkan oleh Rasulullah saw.