Tanggal 13 Agustus 2010, Hadhrat Khalīfatul Masīh V atba menyampaikan Khutbah Jum'at di Masjid Baitul Futūh, London.
Sesudah membacakan ayat 187 dari Sūrah Al-Baqarah, yang diterjemahkan sebagai berikut:
"Dan apabila hamba-hamba-KU bertanya kepada engkau mengenai Aku, katakanlah: 'Aku dekat. Aku menjawab do'a orang-orang ketika berdo'a kepada-Ku. Maka mereka hendaknya mendengar seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka boleh mengikuti jalan yang benar." (2:187)
Hudhur atba bersabda: Ayat ini diwahyukan sehubungan dengan ajaran-ajaran mengenai bulan Ramadhān. Untuk menjadi hamba Allāh yang hakiki dan mengalami pengabulan do'a-do'a seseorang menuntut upaya-upaya besar. Puasa di bulan Ramadhān merupakan satu upaya sedemikian rupa yang seorang mukmin wajib lakukan. Supaya do'a-do'a seseorang didengar, supaya orang terbimbing secara benar dan menjadi orang mukmin yang soleh, orang wajib taat pada perintah-perintah Tuhan dan menguatkan keimanan seseorang. Tak ada jalan lain dari contoh teladan terbaik dalam hubungan ini selain yang dijumpai dalam kehidupan Nabi Suci Muhammad saw.
Hudhur memberikan satu uraian mengenai keunggulan Al-Qur-an Suci dan iman kepada yang ghaib dalam Khutbah Jum'at beliau hari ini. Hudhur mengawali dengan pembacaan ayat berikut: ‘Bulan Ramadhan yang di dalamnya Al-Qur-an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dengan bukti-bukti nyata bagi petunjuk dan pembeda [antara benar dan salah]. Oleh sebab itu, siapapun dari kalian yang hadir di rumah pada bulan ini, hendaklah berpuasa. Tapi siapapun yang sakit atau dalam perjalanan, hendaknya berpuasa sejumlah bilangan yang sama pada hari-hari lain. Allah menghendaki untuk memberikan kalian kemudahan dan Dia tidak menghendaki kesukaran bagi kalian, dan kalian boleh menyempurnakan bilangan hari itu, dan kalian mengagungkan Allah karena Dia telah memberikan petunjuk kepada kalian dan agar kalian bersyukur.’ (2:186) Hudhur menerangkan bahwa ayat ini menyebutkan makna khusus yang Al-Qur-an Suci punyai dengan bulan Ramadhan. Itu merupakan satu bulan untuk membacanya dengan perhatian khusus dan renungan mendalam. Pe-wahyu-an Al-Qur-an berawal pada bulan ini kepada manusia sempurna (s.a.w.) yang mengenai beliau Al-Qur-an menyatakan: ‘Katakanlah, ‘Hai manusia! Sesungguhnya aku adalah seorang rasul bagi kalian semua dari Allah…’ (7:159) dan ‘Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai pemberi kabar suka dan seorang pemberi peringatan, bagi semua manusia, tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’ (34:29)
Written by Hadhrat Maulana Nuruddin (r.a.), Khalifatul Masih I
Monday, 16 August 2010 10:19
Bulan Ramadhan memberikan satu pelajaran takwa - bahwa orang seharusnya mengendalikan kebutuhan-kebutuhan (keinginan)nya - keperluan-keperluan yang sangat penting bagi kelangsungan dan kelanjutan dirinya. Untuk kelangsungan dirinya sendiri, makan dan minum adalah keperluan-keperluan pokok sedangkan, untuk kelanjutan ras manusia, hubungan-hubungan dengan pasangan seseorang adalah perlu. Dalam puasa seseorang meninggalkan keduanya untuk beberapa waktu (yakni selama siang hari) hanya demi mencari keridhaan Tuhan.
Dengan cara ini, Allah telah mengajarkan kepada kita pelajaran bahwa ketika orang menjadi terbiasa meninggalkan keperluan-keperluannya yang pokok dan besar, betapa mudahnya hal itu baginya untuk meninggalkan keperluan-keperluan yang kecil. Bayangkan saja, bahwa ada susu segar, serbat dingin, anggur dan jeruk di rumah seseorang. Bibir kering dengan rasa haus dan tak ada seorang pun dapat mencegahnya dari menggunakannya tapi, walaupun perlu dan dapat terjangkau, dia tidak memakan atau meminumnya. Itu hanya karena [takut] Tuhannya tidak ridha kepadanya.
Written by Hadhrat Maulana Nuruddin (r.a.), Khalifatul Masih I
Monday, 16 August 2010 10:08
Hari-hari bulan Ramadhan ini adalah sangat beberkat. Allah telah memberikan perintah-perintah yang sangat khusus dalam bulan ini dan telah secara khusus menekankan keutamaannya. Mereka yang ada dalam perjalanan atau sakit, mereka telah diperintahkan untuk berpuasa sesudah perjalanan mereka atau apabila mereka telah cukup sehat untuk berpuasa. Tapi untuk yang lainnya, makan [juga minum] dan hubungan [suami] dengan istri sepanjang hari itu adalah terlarang. Makan adalah penting bagi kelangsungan hidup itu sendiri dan hubungan kelamin adalah penting bagi kelangsungan ras (keturunan). Tapi selama bulan Ramadhan, Allah telah memerintahkan untuk menjauhi keduanya sepanjang hari (siang). Tak ada yang lebih penting dari pada kedua hal itu. Tak ada keraguan, bernapas juga penting, tapi orang tidak dapat hidup tanpa itu. Allah telah menjadikan bulan ini bagi tujuan yang amat penting ini bahwa ketika, manusia terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan lain selama sebelas bulan, serta tetap sibuk makan dan minum dan berhubungan suami-istri, dia telah diperintahkan untuk menjauhi hal-hal ini selama satu bulan hanya selama siang hari.
Banyak orang di desaku yang menggunakan ungkapan “جائته ساعته” jaa’athu saa‘atuhuu; mereka maksudkan dengan kalimat itu adalah sebagai saat kegilaannya atau saat kemarahannya atau saat khas yang maksudnya dimengerti pendengarnya.
Yang dimaksudkan dengan Sa‘ah itu adalah waktu secara mutlak. Orang-orang memutlakkan kata Sa‘ah itu kepada apa yang menyamai dengan salah satu dari 24 bagian kata “Yaum”, namun makna aslinya adalah waktu; dan Sa‘ah itu dimutlakkan kepada waktu yang diketahui pendengarnya seperti: Qiyamat Kubra atau perkara yang disepakati secara istilah atau konteknya.
Apabila kami berkata kepada musuh dengan mengancam:
قربت ساعتكم أو قربت الساعة
Maka, yang dimaksudkan dengan Sa‘ah dalam kalimat itu adalah waktu kehancuran mereka yang kami ancamkan dengan kalimat itu atau waktu kehancuran mereka telah dekat. Dan tidak mungkin yang dimaksudkan dengan kata Sa‘ah dalam kalimat itu adalah “Qiyamah Kubra” yakni Qiyamat besar telah dekat atau saat kesempatan benar-benar telah dekat.
Situs Cinta-Islam ini adalah situs web yang Independen dan tidak mengatasnamakan organisasi manapun.
Tim Cinta-Islam bertanggung jawab penuh atas isi halaman web ini.
Silakan Mengutip isi website ini, dengan menyertakan URL atau alamat sumber artikel yang dikutip. Minimal menyertakan kata "Cinta-Islam.web.id"
Mengenai ketentuan pengutipan ayat Alquran didalam Cinta-Islam --sesuai dengan sabda Yang Mulia, Rasulullah saw-- maka basmalah dihitung sebagai ayat pertama. Selengkapnya, silakan disimak penjelasannya pada artikel Rahasia Basmalah
Terakhir, Kami sangat berterimakasih atas kunjungan dan komentar dari saudara-saudara sekalian.
Jazakumullah ahsanal Jaza, dan terima kasih atas kunjungannya.
Statistik Pengunjung Cinta-Islam
Hari ini
701
Kemarin
2433
Minggu ini
7686
Minggu Lalu
39668
Bulan ini
30394
Bulan Lalu
129260
Semuanya
1501508
We have: 23 guests, 6 bots online IP Anda: 38.107.191.111 , Hari ini: Sep 09, 2010