اَللـّاـهُمَّ صَلِّ عَلـاـى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ محُـَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلـاـى اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلـاـى آلِ اِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ
اَ ْلإِيْمَانُ : اَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالجْـَنَّةِ وَالنَّارِ وَالمِْيْزَانِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ بَعْدَ المْـَوْتِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan engkau beriman kepada Surga, Neraka, Mizan; dan engkau beriman kepada Kebangkitan sesudah mati; dan engkau beriman kepada Taqdir, baiknya dan buruknya.” (HR Al-Baihaqi dalam Syi’abil-Iman, An-Nasai, Ath-Thabrani dalam “Al-Kabir”—dari Umar radhiyallaahu ‘anhu; dan Kanzul-Umal, Juz I/1)
Islam Di Zaman Akhir
Sejarah menjadi saksi bahwa Sayyidina Nabi Besar Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan Islam ditentang keras oleh kaum Quraisy yang konon mereka mengaku sebagai pewaris agama Nabi Ibrahim dan Ismail ‘Alaihis-salaam. Padahal semua Nabi itu sama-sama mengajarkan tauhid, seakan-akan ajaran beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam waktu itu bertentangan dengan ajaran tauhid Nabi Ibrahim dan Ismail ‘Alaihis-salaam, sehingga hal itu menjadi asing bagi mereka. Demikian juga, kaum Muslimin zaman akhir menentang keras Hadhrat Imam Mahdi ‘Alaihis-salaam—Pendiri Jemaat Ahmadiyah—mengajarkan Islam yang sama dengan yang telah diajarkan dan dicontohkan Sayyidina Nabi Besar Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam 13 abad sebelumnya, tanpa menambah dan mengurangi sedikitpun. Padahal melalui surat Al-Fatihah yang mereka baca dalam setiap rakaat shalat senantiasa memohon kepada Allah SubchaanaHu wa Ta’aalaa agar mereka dikaruniai seorang Pembimbing kehidupan sehingga mereka termasuk empat golongan orang yang dikaruniai nikmat sebagaimana yang dijelaskan dalam Surat An-Nisa, 4 : 70) Teristimewa Imam Zaman yang kedatangannya telah dijanjikan Allah SubchaanaHu wa Ta’aalaa dalam Surat Al-Jumu’ah, 62 : 4 yang dianjurkan oleh Sayyidina Nabi Besar Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam agar dibaca setiap hari Jumat. Kenyataan penentangan ini adalah merupakan bukti bahwa nubuwat beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah tergenapi sebagai tanda bukti kebenaran bagi orang yang mau merenungkan di zaman ini. Sehingga orang yang mengerti dan mengikuti Imam Zaman bagaikan orang asing, karena jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan lainnya.
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَدَأَ اْلإِسْلاَمُ غَرِيْبًا ثُمَّ يَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ فَطُوْبَى لِلْغُرَبَآءِ
“Islam itu pada mulanya asing, kemudian akan kembali sebagaimana pada mulanya. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing.” (HR Abdur Rachman bin Sunnah Al-Asja’i Fil-Ashabah Al-Aslami; dan Kanzul-Umal, Juz I/1201)
Guna meyakinkan kaum muslimin, Hadhrat Imam Mahdi ‘Alaihis-salaam menjelaskan Rukun Iman dengan tegas sebagai aqidah Islam Jemaat Ahmadiyah yang semua itu sama dengan ajaran Alquran dan Hadits-hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Imam Mahdi ‘Alaihis-salaam bersabda:
إِنَّا نَحْنُ مُسْلِمُوْنَ نُؤْمِنُ بِاللهِ الْفَرْدِ الصَّمَدِ اْلأَحَدِ قَائِلِيْنَ لاَ اِلـاـهَ اِلاَّ هُوَ وَنُؤْمِنُ بِكِتَابِ اللهِ الْقُرْآنِِ وَرَسُوْلِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ وَنُؤْمِنُ بِالْمَلآَئِكَةِ وَيَوْمِ الْبَعْثِ وَالجْـَنَّةِ وَالنَّارِ ... وَنَقْبَلُ كُلَّمَا جَاءَ بِهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاِنْ فَهِمْنَا اَوْلَمْ نَفْهَمْ سِرَّهُ وَلَمْ نُدْرِكْ حَقِيْقَتَهُ وَاَنَا بِفَضْلِ اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ
“Sesungguhnya kami orang-orang Islam yang beriman kepada Allah Yang Tunggal, yang segala sesuatu Bergantung pada-Nya, Yang Maha Esa, dengan mengatakan ‘tidak ada Tuhan kecuali Dia’; kami beriman kepada Kitabullah Alquran dan Rasul-Nya, Paduka kita Muhammad Khaatam para Nabi; kami beriman kepada malaikat, Hari Kebangkitan, Surga dan Neraka … dan kami menerima setiap yang dibawa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, baik kami mengerti atau kami tidak mengerti rahasianya serta kami tidak mengerti hakikatnya; dan berkat karunia Allah, aku termasuk orang-orang mukmin yang mengesakan Tuhan dan berserah diri.” (Nurul-Haq, Juz I, halaman 5)
Jadi Imam Mahdi ‘Alaihis-salaam dibangkitkan di zaman akhir ini semata-mata hanya untuk menghidupkan dan menegakkan kembali ajaran Islam yang pernah diajarkan dan dicontohkan Sayyidina Nabi Besar Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam baik ajaran yang termaktub dalam Kitab Al-Qur'an maupun Hadits yang pernah jaya dalam beberapa abad awal kelahirannya. Agar lebih jelas kami paparkan beberapa kutipan penjelasan beliau yang berkaitan dengan akidah Islam, khususnya mengenai Rukun Iman.
Iman Kepada Allah SubchaanaHu wa Ta’aalaa dan Malaikat-Nya
Berkaitan dengan Rukun Iman pertama dan kedua, Imam Mahdi ‘Alaihis-salaam bersabda, “Semakin kuat iman, semakin baik amal perbuatannya; sedemikian rupa sehingga, jika kekuatan iman ini memperoleh kesempatan mencapai puncaknya, orang tersebut akan mencapai taraf syahid karena dalam hal ini tidak ada yang dapat menghalang-halanginya dan dia tidak enggan mengorbankan hidupnya.” (Malfuzhat, Vol. I, hal. 326, Cet. Add. Nazhir Isyaat 1984)
Selanjutnya, beliau ‘Alaihis-salaam menerangkan bahwa “Islam mengajarkan bahwa Allah adalah Dia Yang memiliki seluruh sifat mulia dan bersih dari segala macam kelemahan/kekurangan. Dia adalah Pencipta dan Penguasa seluruh benda. Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Islam tidak menjadikan suatu makhluk pun sebagai Tuhan atau sekutu bagi Tuhan. Islam mengajarkan perbedaan antara Khaliq dan Makhluq.” (Malfuzhat, Jld. IV, hal. 145 , Cet. Add. Nazhir Isyaat 1984) “Untuk itu adalah penting agar kalian mewakafkan hidup kalian di jalan Allah. Dan, inilah Islam. Inilah tujuan yang untuknya saya diutus.” (Malfuzhat, Jld. III, hal. 188-189, Cet. Add. Nazhir Isyaat 1984)
Imam Mahdi ‘Alaihis-salaam bersabda:
جِئْتُ ِلأُقِيْمَ النَّاسَ عَلَى التَّوْحِيْدِ
“Aku datang untuk menegakkan manusia di atas tauhid.” (Al-Istiftaa', hal. 45)
Iman Kepada Kitab-Kitab Allah SubchaanaHu wa Ta’aalaa
Berkaitan dengan Rukun Iman ketiga Hadhrat Imam Mahdi ‘Alaihis-salaam menyatakan, “Diriku yang lemah telah diutus ke dunia untuk menyampaikan pesan Tuhan untuk menyatakan bahwa di antara semua agama yang ada saat ini satu-satunya yang benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan adalah yang dikemukakan oleh Alquran; dan Laa ilaaha illallaahu Muhammadur-Rasuulullaah adalah pintu memasuki Rumah Keselamatan.” (Malfuzhat, Vol. II, hal. 132, Cet. Add. Nazhir Isyaat 1984)
“Sama sekali tidak mungkin mendapat keberhasilan tanpa mengikuti ajaran Alquran, jika seseorang berfikir sebaliknya, itu hanyalah semata-mata khayalan; orang-orang duniawi mengejar keberhasilan macam ini.” (Malfuzhat, Vol, II, hal. 157, Cet. Add. Nazhir Isyaat 1984)
“Di masa kita, ada pertanyaan yang muncul: Apa sebab-sebab yang mengakibatkan kemunduran Islam, dan apa pula sarana-sarana yang melaluinya timbul jalan keluar bagi kemajuannya? Orang-orang telah memberikan berbagai macam jawaban atas hal itu sesuai dengan pemikiran masing-masing. Namun, jawaban yang benar adalah bahwa kemunduran itu terjadi karena meninggalkan Alquran. Dan, hanya dengan melakukan perbuatan yang sesuai dengannya Alquran-lah kondisinya akan menjadi baik.” (Malfuzhat, Vol. V, hal. 256, Cet. Add. Nazhir Isyaat 1984)
Selanjutnya beliau ‘Alaihis-salaam bersabda, “Ini adalah suatu Kitab yang selaras dengan kodrat. Sebagaimana difirmankan: Fiihaa kutubun qoyyimah (Al-Bayyinah, 98 : 4). Ini adalah lembaran-lembaran yang di dalamnya terdapat seluruh kebenaran. Betapa beberkatnya Kitab ini dimana di dalamnya terkandung segala sarana untuk mencapai derajat yang paling tinggi.” (Malfuzhat, Jld. I, hal. 39, Cet. Add. Nazhir Isyaat 1984). Maka dari itu, beliau ‘Alaihis-salaam mengajak umat manusia untuk memahami dan melaksanakan ajaran Alquran.
Beliau ‘Alaihis-salaam bersabda:
وَمَا آمُرُ النَّاسَ اِلاَّ بِالْقُرْآنِ وَاِلَى الْقُرْآنِ وَاِلَى طَاعَةِ الرَّبِّ الَّذِيْ اِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ
“Aku tidak menyuruh manusia kecuali dengan Alquran dan kembali kepada Alquran serta taat kepada Tuhan yang kepada-Nya mereka akan dikembalikan.” (‘Ainah Kamalati Islam, hal. 486)
Iman Kepada Para Utusan Allah SubchaanaHu wa Ta’aalaa
Sehubungan dengan Rukun Iman keempat, Pendiri Jemaat Ahmadiyah mengajarkan iman kepada semua Nabi dan Utusan Allah SubchaanaHu wa Ta’aalaa. Teristimewa ajaran keimanan kepada Sayyidina Nabi Besar Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya, beliau ‘Alaihis-salaam menyatakan dengan tegas sebagai berikut: “Tuhan telah berkehendak bahwa semua kesempurnaan yang dimiliki oleh para Nabi, semuanya terkumpul dalam wujud Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” (Malfuzhat, Vol. I, hal. 326, Cet. Add. Nazhir Isyaat 1984)
Seandainya Yang Mulia Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak datang, maka bukan lagi kenabian, bukti akan adanya Tuhan pun tidak akan dapat dijumpai dalam keadaan demikian. Melalui ajaran beliaulah baru Tuhan itu dapat diketahui: Qul huwallaahu achad, Allaahush-shomad, Lamyalid walam yuulad, walam yakullahu kufuwan ahad. (Al-Ikhlas, 112 : 2-5)
Selanjutnya beliau ‘Alaihis-salaam bersabda:
لاَ اِلـاـهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ – آمَنْتُ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَكُتُبِهِ وَالْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ
“Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Muhammad adalah Utusan Allah—Kami beriman kepada Allah, malaikat-Nya, para Rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, Surga, Neraka dan Kebangkitan sesudah mati.” (Anwarul-Islam, hal. 34)
وَاللهُ يَعْلَمُ اِنِّيْ عَاشِقُ اْلاِسْلاَمِ وَفِدَاءُ حَضْرَةِ خَيْرِ اْلاَنَامِ وَغُلاَمُ اَحْمَدَ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Dan Allah mengetahui sesungguhnya aku adalah pecinta Islam, berkorban untuk Hadhrat Khairil-anaam Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan aku sebagai pelayan Ahmad Mushthafa Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” (Ainah Kamalati Islam, hal. 388)
Iman Kepada Hari Akhir
Sehubungan dengan Rukun Iman kelima, Hadhrat Imam Mahdi ‘Alaihis-salaam bersabda, “Akhirnya, suatu hari dunia ini akan habis dan semuanya akan punah…. Itu betul. Dan, Allah SubchaanaHu wa Ta’aalaa dari sejak awal sudah merupakan Khaaliq (Pencipta) terus-menerus. Namun, Keesaan-Nya pun menuntut supaya Dia di suatu saat menghabiskan semuanya ini. Kullu man ‘alaiha faan. (Ar-Rahman, 55 : 27). Segala sesuatu yang ada di atasnya, akan menjadi punah. Kita tidak dapat mengatakan kapan waktu itu akan tiba. Namun, waktu yang demikian pasti akan datang.” (Malfuzhat, Jld. IX, hal. 193, Cet. Add. Nazhir Isyaat 1984)
“Hendaknya diketahui bahwa alam Akhirat pada hakikatnya merupakan sebuah refleksi alam dunia. Dan, segala sesuatu di dunia yang tampil secara rohani sebagai iman dan dampak keimanan, serta kufur dan dampak kekufuran, akan tampil di alam Akhirat secara nyata. Allah SubchaanaHu wa Ta’aalaa berfirman: ‘Wa man kaana fii chaadzihii a’maa fahuwa fil-aakhirati a’maa'. (Bani Israil, 17 : 73) Yakni, siapa yang buta di dunia ini, dia juga akan buta di Akhirat.’” (Malfuzhat, Jld. III, hal. 61-62, Cet. Add. Nazhir Isyaat 1984)
“Kemudian, mengenai anugerah di Surga, dalam kaitannya dengan orang-orang saleh, Allah SubchaanaHu wa Ta’aalaa berfirman: Yufajjiruunahaa tafjiiraa—yang memancarkannya dengan sebaik-baiknya. (Al-Insan, 76 : 7) Yakni, dari tempat itu memancar dan mengalir sungai-sungai. Kemudian di tempat lain dalam rangka menguraikan ganjaran bagi orang-orang mukmin dan orang-orang yang beramal saleh, Allah SubchaanaHu wa Ta’aalaa berfirman: Jannaatin tajrii min tachtihal-anhaar—Kebun Surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. (Al-Baqarah, 2 : 25)” (Malfuzhat, Jld. III, hal. 155-156, Cet. Add. Nazhir Isyaat 1984)
“Hendaknya dimengerti, apakah Neraka itu? Neraka yang satu adalah yang akan diperoleh sesudah manusia mati sebagaimana janji Allah SubchaanaHu wa Ta’aalaa, sedangkan yang satu lagi adalah kehidupan ini, jika tidak untuk Allah SubchaanaHu wa Ta’aalaa; maka itu adalah Neraka juga.” (Malfuzhat, Vol. II, hal. 101, Cet. Add. Nazhir Isyaat 1984)
Iman kepada Taqdir Allah SubchaanaHu wa Ta’aalaa
Akhirnya sehubungan dengan Rukun Iman keenam, Hadhrat Imam Mahdi ‘Alaihis-salaam bersabda, “Orang-orang melontarkan kritikan mengenai ini, yakni mengapa taqdir itu terdiri dari dua bagian? Maka jawabnya adalah, pengalaman memberi kesaksian akan hal itu, yakni kadang-kadang tampil dalam bentuk-bentuk yang sangat berbahaya dan manusia benar-benar jadi putus asa. Namun, melalui doa dan sedekah serta pengorbanan, akhirnya bentuk-bentuk bahaya tersebut jadi hilang. Jadi, akhirnya terpaksa diakui bahwa jika taqdir muallaq (taqdir yang masih dapat berubah) itu tidak ada, dan segala sesuatu yang berlaku hanyalah taqdir mubram (taqdir yang tidak dapat berubah), maka mengapa bisa terjadi penolakan bala? Dan berarti, doa serta sedekah dan sebagainya itu tidak ada artinya sedikitpun?
Beberapa iradah Ilahi hanya dengan maksud agar tumbuh rasa khawatir pada manusia sampai batas tertentu. Lalu jika ia memberikan sedekah dan pengorbanan, maka rasa khawatirnya itu dihilangkan. Permisalan pengaruh doa adalah seperti unsur laki-laki dan perempuan. Jika syarat terpenuhi dan diperoleh waktu yang tepat serta tidak ada kekurangan apapun, maka sesuatu masalah akan terhindarkan. Dan apabila yang berlaku taqdir mubram, maka tidak timbul sarana-sarana pengabulan doa. Hati memang menginginkan doa, akan tetapi perhatian tidak dapat terpusat sepenuhnya dan dalam hati tidak muncul rasa perih dan sedih. Shalat, sujud dan lain-lain yang dilakukannya tidak terasa nikmat; yang darinya dapat diketahui bahwa itu bukan akhir yang baik dan merupakan taqdir mubram.” (Malfuzhat, Jld. VII, hal. 87-88, Cet. Add. Nazhir Isyaat 1984)
Dari semua kutipan di atas, jelas sekali bahwa Pendiri Jamaah Islam Ahmadiyah—Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘Alaihis-salaam mengimani dan mengajarkan Rukun Iman sebagaimana yang telah diajarkan Sayyidina Nabi Besar Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَ ْلإِيْمَانُ : اَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَالْمِيْزَانِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan engkau beriman kepada Surga, Neraka, Mizan; dan engkau beriman kepada Kebangkitan sesudah mati; dan engkau beriman kepada Taqdir, baiknya dan buruknya.” (HR Al-Baihaqi dalam “Syi’abil-Iman”, An-Nasai, Ath-Thabrani dalam “Al-Kabir”—dari Umar radhiyallaahu ‘anhu; dan Kanzul-Umal, Juz I/1)
----------------------
Penulisan nomor ayat Alquran dalam brosur ini berdasarkan Hadits Nabi Besar Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam riwayat sahabat, Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu, yang menunjukkan bahwa setiap basmalah pada tiap awal surat adalah ayat pertama surat itu.
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَعْرِفُ فَصْلَ السُّوْرَةِ حَتَّى يَنْزِلَ عَلَيْهِ بِسْمِ اللهِ الرَّحمْـاـنِ الرَّحِيْمِ
“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui pemisahan antara surat itu sehingga bismillaahir-rachmaanir-rachiim turun kepadanya.” (HR Abu Daud, “Kitab Shalat”; dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak”)
|